Kemarin, sebuah thread tentang proses rekrutmen dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) mendapat perhatian cukup besar. Percakapan bermula dari pertanyaan apakah benar proses seleksi dosen di UII sedemikian panjang dan ketat. Jawabannya beragam. Menariknya, kebanyakan respons justru menebalkan sisi lain dari UII yang selama ini jarang terekspos ke publik.
Tidak sedikit yang berbicara tentang bagaimana UII merawat kesejahteraan warganya. Ada juga yang menceritakan pengalaman bekerja. Ada pula komentar yang sangat sederhana tetapi cukup membekas: “Kampus yang sangat memanusiakan dosen.”
Sebagai warga UII, membaca percakapan itu merupakan posisi yang mungkin agak unik. Saya baru 14 tahun menjadi bagian dari UII, sehingga sedikit banyak mengenal institusi ini dari dalam. Bersamaan waktu, saya juga berinteraksi cukup intensif dengan banyak orang dan institusi di luar UII. Percakapan Threads tersebut menjadi semakin bermakna ketika mendapati bahwa cara sebagian orang luar memandang UII ternyata beririsan cukup besar dengan apa yang dirasakan para warga selama berada di dalamnya.
Dari tempat saya memandang, salah satu kekuatan UII memang terletak di upayanya untuk tetap melihat manusia sebagai manusia. Ada tradisi kolegialitas yang membuat relasi di dalam perguruan tinggi tidak semata-mata dibangun atas struktur, jabatan, dan otoritas. Kita tentu memiliki hierarki dan pembagian kewenangan. Di saat yang sama, ruang untuk berdialog, berbeda pendapat, saling mendengar, dan memperlakukan satu sama lain sebagai kolega tetap terjaga.
Kolegialitas adalah salah satu wajah paling nyata dari upaya memanusiakan manusia di perguruan tinggi. Tradisi ini mengingatkan bahwa universitas pada dasarnya adalah community of scholars, sebuah komunitas akademik, bukan sekadar organisasi dengan atasan, bawahan, target, dan indikator kinerja. Di dalam komunitas semacam itu, otoritas tentu tetap diperlukan, tetapi pengetahuan tidak boleh dimonopoli oleh jabatan. Kepemimpinan tetap dibutuhkan, tetapi agency setiap orang wajib tetap dihargai.
Memanusiakan manusia tentu tidak berarti menjadikan perguruan tinggi sebagai institusi tanpa tuntutan. UII memiliki target, standar, regulasi, evaluasi kinerja, dan berbagai tuntutan organisasi sebagaimana perguruan tinggi lainnya. Bahkan, sebagaimana tergambar dalam thread tersebut, untuk menjadi dosen UII saja seseorang harus melalui proses seleksi yang tidak sederhana. Betapapun, tuntutan terhadap keunggulan tidak seharusnya mengesampingkan penghormatan terhadap martabat manusia. Keduanya justru semestinya berjalan beriringan. Perguruan tinggi dapat menetapkan standar yang tinggi tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.
Perguruan tinggi memang harus dikelola secara profesional. Kampus harus sehat secara finansial, adaptif terhadap perubahan, inovatif, dan mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. Namun, perguruan tinggi bukanlah industri. Kampus adalah ruang pendidikan, keilmuan, dan pembentukan manusia. Mahasiswa bukan pelanggan, melainkan mitra dalam proses belajar dan bertumbuh. Dosen dan tenaga kependidikan bukan faktor produksi, melainkan manusia yang bersama-sama menghidupi perguruan tinggi. Pendidikan pun bukan proses produksi untuk menghasilkan lulusan yang semata-mata memenuhi kebutuhan pasar.
Ada manusia, martabat, relasi, dan proses bertumbuh di dalamnya.
Pendidikan, pada hakikatnya, adalah ikhtiar untuk memanusiakan manusia. Perguruan tinggi seharusnya menjadi salah satu tempat yang paling serius dalam mempraktikkan penghormatan terhadap manusia.
Karenanya, di tengah dorongan industrialisasi pendidikan tinggi yang semakin kuat, harapan agar UII tidak pernah kehilangan kemampuannya untuk tetap memanusiakan manusia menjadi semakin bermakna.
UII bukan universitas yang lahir dari ruang kosong. Pada 8 Juli 1945, kampus ini didirikan oleh para pendiri bangsa dengan cita-cita yang jauh melampaui keberadaan sebuah organisasi pendidikan. Ada nilai, sejarah, dan amanah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Zaman tentu berubah, dan UII harus terus bergerak bersamanya. Namun, bergerak maju tidak berarti meninggalkan nilai-nilai yang sejak awal memberi arah pada perjalanan UII.
Dalam salah satu puisinya, almarhum Prof. Zaini Dahlan meninggalkan sebuah pengingat yang rasanya tetap relevan hingga hari ini. Di tengah UII yang telah “bertahan, tumbuh, dan maju”, beliau memohon agar kita tidak dibiarkan Tuhan untuk “mencari jalan sendiri, yang dipercantik keinginan dan selera.”
Kalimat itu terasa semakin bermakna hari ini. UII tentu harus terus tumbuh dan bergerak maju. Sejauh apa pun langkah itu membawa kita, semoga nilai-nilai yang membuat UII menjadi UII tetap menjadi penuntun.
Denpasar, 10 September 2026

Leave a Reply