Berpagi-pagi aku berjalan. Serpihan langkah aku kumpulkan, tanpa tahu apakah akhirnya akan sampai ke tujuan, tanpa tahu harus singgah di berapa persimpangan, tanpa tahu cuaca seperti apa yang akan datang. Hanya ada sebuah keyakinan, bahwa perjalanan ini harus dimulai, bahkan, saat jalan di depan masih diliputi kabut.
Awalnya, kukira perjalanan hanya membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah pertama. Ternyata, yang jauh lebih sulit adalah menjaga langkah itu tetap hidup setelah berkali-kali merasa salah arah. Kadang, ada jalan yang tampak menjanjikan, meski rupanya berakhir buntu. Ada pintu yang telah diketuk dengan penuh keyakinan, tetapi tidak juga terbuka. Ada pula masa ketika orang lain tampak berjalan lebih cepat, sementara langkah sendiri masih tertahan di persimpangan yang sama.
Dalam situasi seperti itu, kegagalan mulai menjadi sahabat dekat, dan, tidak selalu datang sebagai ledakan besar. Kadang-kadang kegagalan hadir dalam senyap, melalui kabar yang tidak sesuai harapan, rencana yang harus kembali dilipat, atau pertanyaan sederhana yang sulit dijawab—setelah ini, ke mana lagi?
Nampaknya, sewajarnya kebanyakan manusia, aku pernah merasa kurang baik, kurang siap, atau kurang pantas. Sempat pula terpikir bahwa tertundanya sesuatu merupakan pertanda untuk berhenti menginginkannya. Namun, semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa tidak semua penundaan adalah penolakan. Beberapa di antaranya mungkin merupakan cara kehidupan memperpanjang ruang belajar, agar diri ini bertumbuh, agar niat dimurnikan, dan agar sesuatu kelak diterima bukan hanya dengan kegembiraan, melainkan juga dengan kesiapan.
Perjalanan itu kemudian menjadi jauh lebih sunyi dan lebih mendaki. Aku mulai belajar membedakan antara ambisi dan panggilan. Ambisi ingin segera tiba dan dilihat orang, sementara, panggilan membuat seseorang tetap berjalan sekalipun tidak ada yang menyaksikan. Ambisi sibuk menghitung jarak yang telah ditempuh, panggilan mengingatkan alasan langkah itu dimulai.
Ketekunan pun ternyata tidak selalu tampak gagah. Sering kali, ketekunan hanya berupa keberanian kecil untuk kembali berdiri, mencoba sekali lagi setelah kecewa menerpa. Menyalakan kembali harapan yang sempat redup. Mengumpulkan bagian-bagian diri yang tercerai, lalu berbisik pelan, “Mari berjalan lagi.”
Aku juga tidak pernah benar-benar sendirian. Ada doa-doa yang diam-diam menjaga langkah ini. Ada keluarga yang memeluk setiap kali perjalanan membawa pulang hati yang berat. Ada sahabat, guru, dan orang-orang baik yang mungkin tidak pernah mengetahui betapa berartinya satu kalimat sederhana yang pernah mereka ucapkan. Ada tangan-tangan yang tidak mengantarkan hingga tujuan, namun cukup kuat menahan tubuh ini agar tidak jatuh terlalu dalam.
Dan, di atas semuanya, ada Tuhan yang bekerja dengan waktu-Nya sendiri.
Kini aku mengerti bahwa berpagi-pagi bukanlah soal siapa yang paling dahulu sampai. Berpagi-pagi adalah kesediaan untuk bangun ketika hari masih gelap, lalu berjalan dengan kepercayaan bahwa matahari tetap akan terbit meskipun cahayanya belum terlihat. Berpagi-pagi, adalah keberanian membawa harapan melewati kabut, hujan, jalan memutar, dan musim-musim panjang yang seolah tidak berujung.
Saat langit perlahan menjadi terang, kutoleh jalan yang telah dilalui. Ternyata persimpangan-persimpangan itu tidak sepenuhnya menyesatkan. Jalan buntu mengajarkan cara berbalik arah. Hujan mengajarkan waktu untuk berteduh. Penantian memperluas kesabaran. Bahkan luka-luka kecil di sepanjang jalan membentuk cara pandang yang lebih lembut terhadap kehidupan.
Aku belum selesai berjalan. Barangkali, perjalanan yang sesungguhnya justru baru dimulai. Namun pagi ini, rasanya perlu berhenti sebentar—bukan untuk membanggakan sejauh apa langkah telah dibawa, melainkan untuk mensyukuri satu hal sederhana, bahwa setelah segala kegagalan dilalui dengan getir, menyerah tidak pernah menjadi pilihan terakhir.
Aku akan terus berjalan. Bisa jadi kita akan sampai, bisa jadi tidak. Betapapun, tugas manusia bukan memastikan akhir perjalanan, namun tetap berjalan.
Dan rupanya, cahaya memang telah menunggu di ujung perjalanan.

Leave a Reply