Dunia sosial kini seakan disusun bukan atas fondasi kasih, tetapi atas kecemasan ekonomi. Dorongan membangun relasi antarmanusia kian dipengaruhi oleh daya beli, posisi kelas, dan kemampuan menyokong diri di tengah pusaran ekonomi global. Bahkan dalam relasi yang paling personal sekalipun, posisi ekonomi menjadi variabel tak kasatmata yang menentukan batas dan bentuk interaksi.
Dalam kerangka materialisme historis, struktur ekonomi tak hanya membentuk cara hidup, tetapi juga memengaruhi nilai dan kesadaran sosial (Marx, 1859). Sebagaimana dijelaskan oleh Thomas Oatley (2022), struktur ekonomi global tidak netral; ia merangkai kondisi-kondisi sosial dan politik yang kemudian mengatur bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Kapitalisme dan perubahan nilai
Dalam logika kapitalisme yang telah bercampur dengan semangat neoliberal, manusia tak lagi menjadi subjek yang harus dipahami kemanusiaannya. Mereka direduksi menjadi angka, peran, dan produktivitas. Di dunia kerja, istilah “sumber daya manusia” mencerminkan pemaknaan yang menyamakan manusia dengan mesin, alat, atau modal. Suatu istilah yang tampak teknokratis, tapi sejatinya menyakitkan secara filosofis.
Karl Marx (1844) telah menggambarkan gejala ini sebagai alienation, yaitu keterasingan manusia dari hakikat kemanusiaannya akibat tatanan produksi yang mengobjektivikannya. “Man is reduced to an appendage of the machine,” tulisnya, menggambarkan bagaimana logika produksi modern merampas sisi manusiawi dari pekerja.
Tak berhenti di ruang produksi, logika ini menjalar ke kebijakan publik. Dalam negara modern yang terjebak pada orientasi pertumbuhan ekonomi, ukuran keberhasilan bukanlah kesejahteraan manusia, melainkan angka-angka: PDB, investasi asing, dan surplus neraca dagang. Di sinilah hegemoni yang digambarkan oleh Antonio Gramsci (1971) bekerja secara halus—nilai-nilai kapitalistik diterima sebagai kenormalan, bahkan oleh mereka yang dirugikan.
Kebangkitan kartel
Di meja-meja perundingan antara negara dan korporasi, manusia kerap menjadi entitas tak disebut. Fokusnya berkisar pada kemudahan berusaha, insentif fiskal, dan efisiensi biaya tenaga kerja. Pertanyaan seperti: “Apakah pekerja bahagia? Apakah kebutuhan batin mereka terpenuhi?” menjadi terlalu mahal untuk diajukan.
Anthony Giddens (1998) mengkritik neoliberalisme sebagai suatu pandangan yang menempatkan pasar bebas sebagai penentu utama dalam segala aspek kehidupan manusia, termasuk dalam menetapkan prioritas politik dan sosial. Ketika doktrin ini mendominasi, kebijakan pun berhenti memandang manusia sebagai tujuan. Ia menjadi sarana—alat untuk mendongkrak peringkat indeks atau mengejar target investasi.
Adam Smith, yang kerap dijadikan rujukan para pendukung pasar bebas, justru menulis dengan keprihatinan moral. Dalam The Theory of Moral Sentiments (1759), ia menyebut kecenderungan manusia untuk mengagumi yang kaya dan berkuasa sebagai sumber korupsi moral terbesar dalam masyarakat.
Ihsan dan kewajiban sosial
Dalam tradisi Islam, konsep ihsan menawarkan jalan etis yang radikal: menunaikan kewajiban lebih dari yang diwajibkan, dan menuntut hak lebih sedikit dari yang semestinya. Jika dipraktikkan secara kolektif, ini bukan hanya bentuk pengorbanan, tetapi mekanisme sosial untuk memastikan bahwa hak setiap orang terpenuhi, karena ada yang secara sukarela mengisinya.
Ihwal ihsan menunjukkan bahwa relasi sosial tak harus tunduk pada logika kalkulasi. Ia bisa berangkat dari kasih, bukan dari kekurangan. Ia bisa berbasis tanggung jawab, bukan tuntutan. Di sinilah tatanan sosial dibangun di atas nilai, bukan hanya nilai tukar.
Ketika diskursus HAM, keadilan sosial, dan tata kelola yang baik hanya menjadi etalase, maka apa yang tersisa dari kemanusiaan? Relasi sosial yang digerakkan oleh motif ekonomi semata adalah relasi yang rapuh. Ia cepat terbentuk, cepat pula terputus. Tidak ada empati di antara entitas-entitas pasar. Yang ada hanyalah kontrak, termin, dan penalti.
Bila ini dibiarkan, kemanusiaan tak hanya akan memudar. Ia akan hilang. Jika itu terjadi, manusia akan hidup sebagai sistem yang tercabut jiwanya. Mereka hidup sebagai pelaksana fungsi, bukan sebagai pembawa makna.
Menghalau kematian
Saatnya menghalau kematian kemanusiaan dengan kembali berbicara atas nama manusia. Bukan atas nama entitas institusional, pertumbuhan, maupun efisiensi. Dunia saat ini tidak membutuhkan lebih banyak pengelola anggaran, karena yang dibutuhkan sejatinya lebih banyak peneguh nurani. Dunia tidak butuh lebih banyak pelaku ekonomi, namun yang dibutuhkan justru lebih banyak penjaga nilai.
Di tengah dunia yang digerakkan oleh kapital, hanya dengan keberpihakan pada kemanusiaan, peradaban bisa diselamatkan. Karena sesungguhnya, yang paling mendasar dalam hidup ini bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan kesinambungan empati.
