Cahaya kemanusiaan

Cahaya, menurut ilmuwan, adalah salah satu energi yang menjadikan kita mampu melihat bayang-bayang yang di sekitar kita. Tetapi, bukan itu yang dimaksud dengan Allah sebagai cahaya.

Karena memang, kata cahaya di dalam Al-Quran mempunyai tidak kurang dari 10 makna, antara lain ilmu, jalan yang lebar dan lurus, iman, bulan, bahkan Nabi Muhammad SAW pun dinamai cahaya. 

Salah satu sifat Allah, An-Nur, juga biasa diterjemahkan dengan Maha Pemberi Cahaya atau Maha Pemilik Cahaya. Kalau kita membahas apa yang dimaksud Allah pemberi cahaya, maka itu maknanya antara lain bahwa segala macam cahaya yang wujud di alam raya ini kesemuanya bersumber dari Allah. 

Memaknai cahaya

Cahaya dijadikan oleh agama sebagai permisalan dari petunjuk-petunjuk Tuhan. Karena itu, ilmu adalah cahaya, kebajikan adalah cahaya, Al-Quran adalah cahaya, bahkan air wudhu pun adalah cahaya. 

Cahaya tidak membeda-bedakan. Itu berarti tergantung dari kita. Bukalah jendela hati kita, niscaya cahaya akan masuk. Bukalah pintu hati kita, niscaya petunjuk Tuhan akan masuk. Jika petunjuk itu telah datang, tetapi kita tetap menutupnya, dia dapat membelok. 

Dan apapun yang terjadi, cahaya adalah kebutuhan kita semua, kebutuhan umat manusia, bahkan kebutuhan makhluk-makhluk hidup. 

Cahaya di hari kemudian, cahaya itu lahir dari kebaikan-kebaikan, dari amal-amal kebajikan yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan dunia ini. Cahaya di hari kemudian akan diperoleh oleh mereka yang beriman, karena iman adalah cahaya.

Sedangkan mereka yang menutup mata hatinya, yang menutup kalbunya, maka dia pasti tidak akan memperoleh cahaya itu di hari kemudian. 

Kini kita sering mendengar apabila sinar matahari telah memancar, maka kita tidak perlu lagi menyalakan lampu, padamkan listrik. Karena cahaya matahari jauh lebih terang dari cahaya atau terang yang dihasilkan listrik. Dalam aspek spiritual, hal ini juga terjadi. Jika cahaya dan petunjuk Allah telah datang, maka kita tidak perlu lagi menanti petunjuk dari yang lain.

Menarik untuk diamati bahwa Al-Quran selalu menyebut kata nur dalam bentuk tunggal berbeda dengan lawan dari nur yaitu kegelapan. Mina dzulumati ilan nur.

Mengapa nur berbentuk tunggal? Dan selalu berbentuk tunggal karena sumber cahaya hanya satu yaitu dari Allah Swt. Sehingga siapa yang tidak mendapat cahaya dari Allah, dia tidak mungkin akan dapat lagi cahaya dari manapun. 

Berbeda dengan lawannya kegelapan, dzulumat, banyak sekali sumber dari kegelapan itu. Kebodohan adalah kegelapan. Kekufuran adalah kegelapan. Setan adalah kegelapan. Penganiayaan adalah kegelapan. Kejahatan kemanusiaan adalah kegelapan. Karena itu Allah selalu, bila menggandengkan kedua kata ini, cahaya senantiasa berbentuk tunggal, karena dia hanya bersumber dari Allah, sedang kegelapan selalu berbentuk jamak, karena kegelapan itu banyak. Di sisi lain kita lihat bahwa selalu kalau Allah menggandengkan keduanya selalu juga yang disebutnya terlebih dahulu adalah kegelapan baru terang.

Mengapa demikian? Karena betapapun terangnya sesuatu, maka dia masih dapat ditambah dengan terang yang lain. Sehingga ketika sebelum ditambah, dia adalah cahaya dan setelah ditambah, maka cahaya yang sebelumnya kita namai cahaya sekarang keadaannya telah lebih gelap daripada sebelumnya. Jika ingin meneladani sifat Allah, An-Nur sesuai kemampuan kita sebagai makhluk, maka jadilah cahaya, raihlah ilmu. Jadilah cahaya, jadilah bagaikan lilin yang menerangi sekitarnya walau dia harus mengorbankan dirinya sendiri.

Raihlah cahaya dengan mengukuhkan iman dan yakinlah bahwa keimanan dari saat ke saat dapat bertambah, dari saat ke saat dapat tumbuh subur karena cahaya Allah tidak ada batasnya. Allah melukiskan cahayanya sebagai nur ala nur. Cahaya diatas cahaya. Buka pintu hati agar cahaya masuk ke dalam hati kita.

Karena cahaya hanya dapat masuk pada saat terbuka hati. Cahaya tidak dapat menembus tembok yang tertutup rapat. Tapi cahaya dapat menembus sesuatu yang bersifat transparan. Semoga hati kita selalu diliputi oleh cahaya iman.

Tragedi Kemanusiaan Palestina

Kegelapan adalah simbol dari tragedi kemanusiaan yang kini di Palestina. Menurut data yang dihimpun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejak serangan Israel pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Palestina telah melebihi 35.000 orang, dengan lebih dari 79.000 lainnya mengalami luka-luka. Lebih dari 70.000 rumah mengalami kerusakan, dan sekitar 1,7 juta orang kehilangan tempat tinggal. Pada 26 Mei 2024, serangan udara Israel di Rafah mengakibatkan kematian setidaknya 35 orang, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Hingga saat ini, serangan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, meskipun berbagai lembaga internasional telah mengimbau penghentian serangan tersebut. 

Kita perlu kian menguatkan solidaritas kita terhadap saudara-saudara kita di Palestina, serta mendoakan agar kegelapan yang muncul akibat penjajahan dan tragedi kemanusiaan di Palestina segera berakhir, berganti dengan cahaya keselamatan, cahaya kemanusiaan. 

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32).  

Ayat ini mengajarkan kepada kita betapa berharganya satu kehidupan manusia. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga dan memelihara kehidupan, serta menyebarkan cahaya kemanusiaan di tengah masyarakat. Kita diajarkan untuk selalu peduli terhadap sesama, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan, dan berupaya menciptakan kedamaian di muka bumi.  

Saudara-saudara kita di Palestina saat ini sedang menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan. Mereka berjuang mempertahankan hak-hak mereka, termasuk hak untuk hidup dalam damai dan bermartabat. Mari bersama kita tingkatkan empati terhadap penjajahan yang terjadi di Palestina. 

Di tengah kegelapan yang kian pekat akibat kemunafikan dunia merespons penjajahan Israel atas Palestina, sebagai manusia dan sebagai umat Islam, kita wajib memberikan dukungan dan bantuan kepada mereka, saudara-saudara kita di Palestina dengan cara terbaik yang dapat kita lakukan. 

Wallahua’lam.

Disampaikan dalam khotbah Jumat Masjid Ulil Albab UII, 31 Mei 2024.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.