Dinding tanpa jendela

Suatu hari, seorang kawan mempertanyakan sebuah istilah:

Islam ‘kosmopolitan’ itu maksudnya apa? Mengapa Islam perlu diberi label seperti itu? Mengapa tidak cukup dengan konsep Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’? Mengapa seolah-olah umat Islam ‘nggak pede’ dengan agamanya sendiri? Selain itu, kata ‘kosmopolitan’ sering kali terkait dengan gambaran majalah tertentu.”

Sekilas, kritik kawan di atas dapat dipahami sebagai upaya memurnikan ajaran agama, menjaganya dari pengaruh eksternal yang mungkin diduga dapat meluruhkan iman penganutnya dari ajaran agama itu sendiri. Tuduhan kosmopolitan sebagai bentuk inferioritas Muslim diperkuat dengan celaan bahwa istilah kosmopolitan tidak lebih bermakna dibanding label majalah gaya hidup.

Namun, jika dilihat lebih dekat, kritik di atas sebenarnya justru berpotensi mendangkalkan proses berpikir dan berpeluang memisahkan ajaran Islam dari realitas sosial. Mengapa demikian?

Sekat istilah, dinding bahasa

Kawan yang mempertanyakan istilah kosmopolitan di atas mengklaim bahwa Islam sudah cukup dengan ‘rahmatan lil alamin’. Benarkah demikian?

Konsep Islam ‘rahmatan lil ‘alamin’ sejatinya mencakup makna bahwa kehadiran Islam membawa kedamaian dan welas asih (rahmat) bagi seluruh alam semesta: manusia, tumbuhan, hewan, dan juga benda tak bernyawa.

Mungkin, asumsinya, ‘rahmatan lil ‘alamin’ dipandang sudah mencakup seluruh makna tujuan hadirnya Islam, sehingga ekspresi mendefinisikan Islam dalam ruang dan konteks yang lebih partikular sebaiknya dihindari, jika enggan untuk berkata dilarang.

Namun, jika yang dipersoalkan adalah istilah, bukankah sebenarnya kata Islam sendiri sudah cukup? Sebab sejatinya, Islam memiliki akar kata yang dalam—berasal dari kata kerja aslama–yuslimu yang bermakna menyerahkan diri (kepada Tuhan), dan berakar dari salima–yaslamu yang berhubungan dengan kata salam, yang berarti selamat, sejahtera, aman, dan sentosa.

Dengan demikian, Islam adalah tata ajaran yang menitikberatkan pada kedamaian dan perdamaian—baik dalam relasi dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam semesta.

Namun, dalam dunia yang dihuni oleh lebih dari 7.000 bahasa dan 5.000 lebih kelompok etnis dengan adat istiadat yang berbeda, menyampaikan nilai-nilai Islam kepada khalayak yang beragam tentu memerlukan pendekatan bahasa dan istilah yang relevan dengan konteks sosial dan budaya mereka.

Apakah itu berarti kita harus berhenti menggunakan istilah-istilah baru untuk menjelaskan nilai-nilai Islam dalam konteks yang terus berubah? Tentu tidak. Justru di sinilah tantangan sekaligus peluangnya. Bahasa adalah jendela berpikir, bukan dinding pemisah. Menolak istilah baru semata-mata karena dianggap “asing” atau “tidak orisinal” justru bisa membuat kita terkungkung dalam pemahaman yang statis—bahkan reduktif.

Bahasa sebagai jendela, bukan jeruji

Kata kosmopolitan, misalnya, bukan sekadar tempelan makna barat. Dalam pengertian filsafat sosial, ia merujuk pada sikap keterbukaan terhadap keragaman budaya dan penghargaan terhadap kemanusiaan secara universal. Bukankah nilai ini sejalan dengan semangat rahmatan lil ‘alamin?

Mengaitkan Islam dengan nilai kosmopolitan tidak berarti merendahkan Islam, apalagi mencemarkan ajarannya. Sebaliknya, ini adalah cara untuk memperluas daya jangkau makna Islam ke dalam pergaulan global, tanpa kehilangan akar dan identitasnya. Kita tidak sedang mengganti isi ajaran, tapi menyesuaikan bahasanya agar bisa dipahami lintas ruang dan generasi.

Setiap zaman membawa istilahnya sendiri. Jika para pemikir Islam klasik tidak terbuka terhadap istilah-istilah dari filsafat Yunani, barangkali kita tidak akan mengenal konsep-konsep dalam teologi dan etika seperti yang kita pelajari hari ini. Penolakan terhadap istilah, jika dilakukan tanpa kedalaman telaah, justru bisa menjadi bentuk kemalasan intelektual.

Maka, alih-alih membatasi diri pada istilah, mari fokus pada substansi. Tanyakan: apa nilai yang hendak dibawa? Apakah istilah itu membantu menjembatani dialog antar budaya dan peradaban? Apakah ia memperkuat atau justru mengaburkan pesan Islam?

Istilah adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran itu sendiri. Ia ibarat jendela yang bisa kita buka untuk melihat cakrawala, atau kita tutup jika merasa cukup dengan ruang sempit kita sendiri. Tapi satu hal pasti: menolak membuka jendela hanya karena takut pada angin luar, bukanlah ciri dari iman yang dewasa, melainkan kekhawatiran yang belum selesai berdamai dengan dunia.

Jadi, sebelum menolak sebuah istilah, mari pastikan dulu: apakah yang kita tolak itu benar-benar karena alasan teologis, atau sekadar ketakutan pada sesuatu yang berbeda?

Wallahua’lam

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.