Jalan yang lapang

Bayangkan, bersama ribuan orang, kita tengah berjalan di jalan sempit ke suatu tujuan. Kecepatan dan gaya jalan tidak sama satu sama lain. Walhasil, potensi gesekan, kaki terinjak, suasana sesak, tidak nyaman, dan pandangan jalan terhalang bisa jadi gambaran suasana yang akan dirasakan.

Bagaimana jika jalan tersebut lebar, lapang, membentang lurus, dan mampu menampung semua pejalan? Niscaya, dengan jalan yang lapang ini akan membawa kita sampai ke tujuan bersama-sama, berbagi ruang tanpa perlu berdesakan.

Jalan yang lapang, demikianlah sejatinya doa yang senantiasa kita panjatkan sebanyak 17 kali setiap hari, dengan lafaz “ihdinas shirath al-mustaqim”. Tidak jarang, permohonan ini dipahami sebagai harapan agar kita mendapat jalan yang lurus. Meski, dalam bahasa Al-Quran sesungguhnya shirath al-mustaqim dapat ditafsirkan sebagai jalan yang lebar (Shihab, 1997).

Dengan mengacu pada penafsiran tersebut, sebenarnya kita selalu bermohon agar Allah Swt memberikan jalan yang lapang bagi hidup kita. Selain jalan yang lurus, kita juga bermohon agar ditunjukkan jalan yang lapang, di mana sejauh bercirikan keselamatan (as-salam), segala kebaikan dapat ditampung, semua aliran dapat dirangkul, dan setiap pendapat dapat diterima.

Jalan yang lapang sejatinya adalah himpunan dari jalan-jalan kecil (sabil) yang bercirikan kedamaian, ketenteraman, dan ketenangan (Al-Quran 5:16). Karenanya, agar kita dapat berada dalam jalan yang lurus dan lapang, kita perlu mencari jalan-jalan kecil dengan melakukan amal yang dapat dilakukan, meski tidak besar, namun niscaya jika senantiasa dilakukan akan bermuara ke shirath al-mustaqim.

Pesan ini juga sekaligus menebalkan perlunya kita menghargai perbedaan di antara sesama umat, di mana perspektif yang kita yakini tentu bukanlah kebenaran mutlak yang memisahkan garis benar-salah, bahkan menentukan surga-neraka. Jika demikian yang terjadi, jalan lurus justru menjadi jalan yang sempit dan tidak menarik bagi umat.

Sebagaimana agama berpesan, tugas manusia sesungguhnya sekadar menyeru pada kebaikan dengan cara yang baik. Bilapun harus berbeda pandangan, wajib disampaikan dengan cara terbaik. Tidak menjadi kewenangan manusia untuk menyimpulkan siapa yang paling benar, karena Allah Swt yang paling mengetahui siapa di antara kita yang mendapat petunjuk (Al-Quran 16:125).

Meski terkadang sunyi, jalan menuju Allah adalah jalan yang lebar, sehingga siapapun dapat menapakinya tanpa perlu merasa bahwa jalan yang ia pilih adalah satu-satunya jalan yang benar. Wallahua’lam.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.