-
Delapan dirham yang hilang
Jika dihitung dengan ukuran hari ini, delapan dirham itu tak lebih dari tiga ratus ribuan rupiah. Jumlah yang mungkin habis dalam sekali makan siang di restoran mewah para pejabat, atau lenyap dalam satu kali gesekan kartu kredit. Tetapi justru dari jumlah kecil itulah Nabi menunjukkan kelapangan hati yang besar. Dari delapan dirham lahir kemuliaan, dari… — read more
-
Neoliberalisme dan kematian martabat manusia
Dalam praktik sehari-hari, manusia justru diperlakukan tak lebih dari faktor produksi yang harus diperas, ditekan, bahkan dibuang ketika dianggap tak lagi efisien. Pertanyaan sederhana pun mengemuka: apakah manusia masih dipandang sebagai subjek bermartabat, atau sekadar angka dalam statistik perusahaan? — read more
-
Pasar dan kematian kemanusiaan
Di tengah dunia yang digerakkan oleh kapital, hanya dengan keberpihakan pada kemanusiaan, peradaban bisa diselamatkan. Karena sesungguhnya, yang paling mendasar dalam hidup ini bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan kesinambungan empati. — read more
-
Kecohan kecepatan
Good things take time. Maka, izinkan diri kita tumbuh perlahan. Karena yang cepat datang, cepat pula hilangnya. Tapi yang lama bertahan, pasti pernah melalui jalan yang panjang. — read more
-
Cahaya kemanusiaan
Cahaya, menurut ilmuwan, adalah salah satu energi yang menjadikan kita mampu melihat bayang-bayang yang di sekitar kita. Tetapi, bukan itu yang dimaksud dengan Allah sebagai cahaya. Karena memang, kata cahaya di dalam Al-Quran mempunyai tidak kurang dari 10 makna, antara lain ilmu, jalan yang lebar dan lurus, iman, bulan, bahkan Nabi Muhammad SAW pun dinamai… — read more
-
Dinding tanpa jendela
Suatu hari, seorang kawan mempertanyakan sebuah istilah: Islam ‘kosmopolitan’ itu maksudnya apa? Mengapa Islam perlu diberi label seperti itu? Mengapa tidak cukup dengan konsep Islam sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’? Mengapa seolah-olah umat Islam ‘nggak pede’ dengan agamanya sendiri? Selain itu, kata ‘kosmopolitan’ sering kali terkait dengan gambaran majalah tertentu.” Sekilas, kritik kawan di atas dapat… — read more
-
Menyisir takdir
Uraian mengenai takdir bukanlah pembahasan yang sudah muncul sejak masa Rasulullah saw. Karena, pada setelah masa pemerintahan Nabi Muhammad saw., tepatnya, setelah wafatnya Sayyidina Ali, pembahasan takdir baru dibicarakan. Saat itu, menurut Sheikh Al Azhar dan banyak ulama lain, Muawiyah bin Abu Sufyan dan generasi-generasi sesudahnya ingin menutupi kesalahannya dalam pemerintahan, ingin mengalihkan kesalahan itu… — read more
-
Jalan yang lapang
Bayangkan, bersama ribuan orang, kita tengah berjalan di jalan sempit ke suatu tujuan. Kecepatan dan gaya jalan tidak sama satu sama lain. Walhasil, potensi gesekan, kaki terinjak, suasana sesak, tidak nyaman, dan pandangan jalan terhalang bisa jadi gambaran suasana yang akan dirasakan. Bagaimana jika jalan tersebut lebar, lapang, membentang lurus, dan mampu menampung semua pejalan?… — read more
-
Kalis dalam kelas
Manusia menikmati kelas dan status sosial yang hierarkis. Semakin berpunya, manusia cenderung semakin memperkaya dan mengisolasi diri. Di saat yang sama, kontribusi mereka terhadap kesejahteraan publik juga semakin terbatas. Inilah salah satu argumen utama Nelson D. Schwartz dalam karyanya The Velvet Rope Economy: How Inequality Became Big Business (2020). Perilaku ini disambut oleh logika kapital… — read more
-
Hikmah dalam dakwah
Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi pendorong terbukanya curahan informasi dari berbagai sisi. Setiap saat, suguhan informasi selalu terlimpah, tersaji, dan terbuka untuk semua lapisan masyarakat. Tren ini melahirkan pendangkalan. Dalam memahami persoalan, masyarakat dilelahkan dengan kepungan informasi yang terkadang sengaja digiring menuju opini tertentu. Oleh karenanya sebagai umat muslim kita memiliki kewajiban untuk senantiasa… — read more