Di antara kaset dan karton

Dulu, Bapak adalah seorang penyiar radio. Dari sana semuanya bermula.

Ada satu lorong sempit di kantor radio itu, lebarnya tak lebih dari dua setengah meter, memanjang sekitar lima belas meter. Di kiri dan kanan, juga di bagian atas, tersusun rapi ribuan kaset. Setiap punggungnya ditandai tulisan tangan—huruf, angka, kode—ditoreh dengan spidol hitam yang sama, oleh tangan yang sama. Tangan Bapak, seorang penyiar yang memulai karier dari bawah, lalu dipercaya untuk menyusun suara bagi banyak orang.

Di lorong itu, waktu seperti berjalan pelan. Sepulang sekolah, setiap kali bermain di kantor Bapak, membuka satu kaset berarti membuka kemungkinan. Musik jazz di satu sisi, klasik di sisi lain, diselingi lagu-lagu yang tak lekang oleh usia. Malam-malam tertentu setiap kali ikut Bapak siaran memiliki karakternya sendiri. Senin terasa berbeda dengan Kamis. Setiap malam memiliki ritme yang terjaga dan ada rasa yang dikurasi berbeda oleh sosok penyiar radio sejak tahun 1985 itu.

Di tempat lain, Ibu berada di dunia yang berbeda. Biro iklan.

Selain sering diajak ke kantor Bapak, agenda rutin sepulang sekolah juga sering menemani Ibu bekerja sampai sore. Ruang kerjanya sederhana, bahkan cenderung seadanya. Karton coklat, pensil 2B, selotip kertas, spidol selalu diberikan Ibu pada anak sulungnya agar ia tidak bosan dalam membunuh waktu. Tidak ada batasan atas apa yang boleh dibuat. Garis bisa menjadi huruf, huruf bisa menjadi bentuk, bentuk bisa menjadi apa saja. Di sana, imajinasi tumbuh dalam dunia komunikasi visual.

Dua dunia itu—radio Bapak dan biro iklan Ibu—tidak pernah benar-benar terpisah. Rupanya, keduanya diam-diam menyatu, membentuk cara melihat dunia yang bertahan hingga sekarang.

Ada satu kebiasaan kecil yang terasa ganjil jika dipikir ulang. Kadang, kaset dan CD dari kantor sering Bapak pinjam untuk dibawa pulang beberapa hari, khususnya untuk musik klasik yang dikirim langsung dari luar negeri. Namun, di rumah, tidak selalu ada perangkat yang memadai untuk memutarnya. Seolah-olah nilai dari benda-benda itu tidak hanya terletak pada bunyinya, melainkan pada kedekatannya. Musik tidak selalu harus diputar untuk bisa hidup.

Waktu bergerak, dan dunia mulai berubah. Ibu memutuskan keluar dari biro iklan tempatnya bekerja, lalu membangun usaha sendiri bersama Bapak. ‘Tempat bermain’ pun pindah. Sejak masa SMP, hampir setiap hari diisi di biro iklan keluarga itu—yang kini bukan lagi sekadar tempat menunggu pulang ke rumah, melainkan tempat anak-anak Bapak Ibu dibesarkan.

Bapak dan Ibu melibatkan anak sulungnya dalam biro iklan itu sebagai desainer grafis dengan keterampilan seadanya. CorelDRAW, Photoshop, dan berbagai permintaan klien datang tanpa jeda. Maskapai, kampus, toko pakaian, instansi pemerintahan—setiap proyek membawa tantangannya sendiri.

Tidak ada ruang nyaman. Setiap desain yang disusun selalu bermuara pada salah satu nasib: disetujui atau dianggap tidak sesuai, kemudian dicampakkan.

Tentu ada hari-hari ketika ide tak kunjung datang. Duduk berjam-jam di depan layar, mencoba menyusun sketsa, menggeser, menghapus, mengulang. Sampai pada satu titik, bentuk desain itu akhirnya muncul. Dicetak dengan harapan yang cukup besar agar dapat disetujui. Sayangnya, beberapa kali keputusan klien tidak selalu berpihak. Desain yang terasa sudah cukup serius justru dicampakkan.

Boleh jadi, fase-fase penolakan semacam ini justru mengajarkan resiliensi dan toleransi dalam kehidupan. Tidak semua yang kita nilai benar dan bagus harus diterima orang lain.

Seiring waktu, pelan-pelan terbentuk pemahaman baru. Karya bukan selalu tentang siapa yang membuatnya, melainkan siapa yang membutuhkannya. Pemahaman ini melahirkan proses belajar untuk melepaskan, tanpa harus menghilangkan standar yang selama ini diusahakan.

Pemahaman ini juga menempa cara baru dalam melihat kegagalan. Sebagian besar penolakan dalam hidup sebenarnya bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai bagian dari proses pengembangan diri yang lebih panjang.

Dari radio Bapak, lahir kepekaan terhadap rasa. Dari biro iklan Ibu, tumbuh keberanian untuk meramu gagasan menjadi tampilan visual. Dari keduanya, terbentuk kurasi dan kreasi yang begitu berwarna dalam memahami makna dunia.

Kini, setiap kali melihat desain yang tidak presisi, atau komposisi yang terasa janggal, ada sesuatu yang langsung bereaksi. Bukan sekadar preferensi, melainkan akumulasi pengalaman hidup. Ada jejak tangan yang dulu menulis ribuan kode kaset. Ada bekas goresan pensil di atas karton coklat. Ada malam-malam panjang di depan layar, menunggu ide yang akhirnya datang.

Kini, Bapak telah berpulang. Ibu masih merawat biro iklan keluarga, dengan ritme dan tantangan yang tak lagi sama seperti dulu.

Yang perlahan berubah, justru anak sulungnya—yang dulu duduk di lorong kaset dan di meja karton itu.

Waktu tidak pernah benar-benar menghapus kenangan, melainkan hanya mengubah cara hadirnya.

Apa yang dulu tampak sederhana, kini terasa jauh lebih bermakna.

Dan mungkin, tanpa disadari, yang dicari sebenarnya bukanlah masa lalu itu sendiri—melainkan rasa yang pernah hidup di dalamnya.

Malam takbir di Bratislava, 19 Maret 2026

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.