Banyak orang telah lebih dulu memberi peringatan bahwa Slovakia bukan negeri yang cukup ramah bagi penutur bahasa Inggris. Kalimat itu beberapa kali singgah di telinga sebelum keberangkatan, seolah hendak menjadi bekal mental agar ekspektasi tidak terlampau tinggi. Pada mulanya, peringatan itu tidak terlalu menggoyahkan keyakinan. Bukankah di atas bahasa selalu ada rasa kemanusiaan yang tidak memerlukan kamus? Agaknya, selama manusia masih mampu saling memandang sebagai sesama, selalu ada jalan untuk bertahan hidup, meski tanpa banyak kata yang dipahami bersama.
Keyakinan itu sempat meluruh hampir sepenuhnya pada hari pertama tiba di Slovakia.
Setelah sampai di apartemen, semua tampak begitu tertata. Koper telah diletakkan di tempatnya. Pakaian sudah tersusun di lemari. Dapur masih kalis, seolah belum disentuh kehidupan. Beberapa makanan kecil yang dibeli di Bandara Vienna untuk berbuka puasa juga telah ditaruh dengan rapi. Sofa masih tampak baru. Tempat tidur masih rapi dalam keteraturannya. Kamar mandi pun bersih, lengkap dengan pemanas khusus untuk handuk, sesuatu yang bagi orang dari negeri tropis terasa sederhana sekaligus mewah.
Sementara itu, di luar jendela, salju menebal seperti diam yang dibekukan. Mungkin setebal satu jengkal tangan. Angin bertiup cukup kencang, dan pada saat itu muncul pikiran untuk membersihkan diri, lalu beristirahat sambil menunggu waktu berbuka.
Namun, ketenangan apartemen itu tidak berlangsung lama.
Ketika tangan meraih ponsel, tidak ada sinyal. Provider dari Indonesia yang dipakai rupanya tidak bekerja sama dengan penyedia jasa telekomunikasi mana pun di Slovakia. Tidak ada satu pun tanda yang menghubungkan diri ini dengan dunia yang ditinggalkan beberapa jam sebelumnya. Memang ada wifi, tetapi wifi itu meminta kata sandi. Dan kata sandi itu tidak ada di mana-mana.
Kegelisahan sering datang bukan karena malapetaka besar, melainkan karena kekhawatiran kecil yang mendadak terasa membuncah. Dalam beberapa menit, pikiran bergerak ke banyak arah sekaligus. Bagaimana jika keluarga tidak tahu keadaan di sini? Bagaimana bila rekan dan kolega menunggu kabar? Bagaimana rasanya tiba di negeri asing, pada akhir pekan, dalam cuaca bersalju, tanpa sinyal, tanpa wifi, tanpa satu saluran pun yang membuat seseorang dapat berkata sederhana kepada rumahnya: saya sudah sampai.
Turunlah langkah ini ke meja resepsionis.
Dalam bahasa Inggris ditanyakan kata sandi wifi. Petugas resepsionis tidak mampu menjawab dalam bahasa yang sama. Dari serpihan penjelasan dan bahasa tubuh yang ditangkap, kesimpulannya sederhana namun cukup membuat penat: ia tidak tahu kata sandinya, dan yang mengetahui kata sandi hanya manajer. Manajer baru akan datang pada hari Senin. Padahal saat itu hari Sabtu.
Di negeri sendiri, gangguan kecil seperti ini barangkali hanya menjadi jeda. Di negeri orang, ia segera berubah menjadi kegelisahan yang lebih dalam. Tiba-tiba terasa betapa rapuhnya manusia modern ketika dipisahkan dari sinyal. Bukan sekadar karena teknologi telah membuat manusia manja, melainkan juga karena orang-orang yang dicintai kini hidup dalam jangkauan yang dijaga oleh gelombang-gelombang tak kasatmata. Ketika jangkauan itu terputus, yang terganggu bukan hanya komunikasi, namun juga rasa tenang.
Akhirnya, diputuskan untuk mencari kartu seluler di pusat perbelanjaan dekat bandara. Untuk ke sana, perlu naik bus. Pengalaman di beberapa negara sebelumnya memberi keyakinan yang mungkin terlalu cepat dianggap berlaku di mana-mana: tiket bus dapat dibeli di dalam, saat penumpang naik. Maka, dengan keyakinan yang belum teruji oleh realitas Bratislava, langkah ini masuk ke dalam bus begitu saja.
Suasananya begitu lengang. Bus dengan empat pintu itu hanya terisi kira-kira seperempat dari kursi yang tersedia. Di luar, salju masih tampak tebal. Di dalam, kehangatan kendaraan dan kesenyapan para penumpang menciptakan suasana yang tidak mudah dibaca oleh pendatang.
Ketika berusaha membeli tiket, kenyataan lain menunggu. Sopir bus sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris. Ia hanya menggunakan bahasa tubuh, semacam isyarat yang tegas namun tidak kasar: jika perlu tiket, gunakan mesin itu. Ia menunjuk ke mesin di sebelahnya. Bentuknya modern, nyaris serupa dengan yang ditemukan di Sydney atau Washington, D.C. Hanya satu hal yang membedakan, tetapi perbedaan itu sangat menentukan: seluruh petunjuknya menggunakan bahasa Slovakia. Lebih rumit lagi, mesin itu tidak menerima uang tunai. Hanya kartu.
Pada saat-saat seperti itu, manusia asing belajar bahwa kecanggihan tidak selalu identik dengan kemudahan. Mesin boleh saja modern, tetapi bila bahasa di dalamnya tertutup bagi yang membutuhkan, ia tak ubahnya dinding yang licin: tampak jelas, tetapi tak mampu menjadi pegangan.
Kegusaran barangkali terlalu tampak di wajah. Di tengah situasi itu, seorang pemuda yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri akhirnya menoleh. Barangkali usianya tidak terpaut jauh dari usia mahasiswa pascasarjana: masih muda, tinggi, berwajah teduh, memakai hoodie hangat dan tas ransel hitam. Ia lalu mengucapkan kalimat sederhana yang pada hari pertama di negeri asing terdengar lebih menenangkan daripada banyak pidato tentang peradaban:
Do you need help?
Barangkali itulah bahasa Inggris pertama yang terasa sungguh-sungguh bermakna di Slovakia.
Ku jelaskan situasi yang sedang dihadapi. Bahasa Inggris yang ia miliki juga tidak sepenuhnya lancar, tetapi cukup untuk membuat dua orang saling asing bekerja sama mengalahkan satu persoalan kecil. Sesekali ia tampak menggunakan perangkat penerjemah di telepon genggamnya agar pesan yang dimaksud tidak tersesat. Ia membantu memahami mesin tiket itu sampai akhirnya tiket berhasil dibeli.
Sesudah urusan kecil itu selesai, ia menawarkan tempat duduk di sebelahnya.
Perjumpaan itu mungkin hanya berlangsung sepuluh menit, tidak lebih. Kami berbincang secukupnya tentang Slovakia, tentang bagaimana negeri ini bisa memberi kejutan bagi orang asing, dan tentang banyak hal yang tak perlu selalu dijelaskan secara panjang untuk dapat dipahami. Ia turun tiga atau empat halte sebelum pusat perbelanjaan yang kutuju. Sebelum turun, yang tertinggal bukan hanya rasa lega karena tiket telah terbeli, melainkan sesuatu yang lebih dalam: keyakinan yang tadi sempat meluruh, diam-diam kembali tumbuh.
Hari pertama di negeri asing memang kerap menjadi ujian bagi prasangka-prasangka yang dibawa dari tempat asal. Manusia sering mengira bahasa adalah alat pertama untuk menyelamatkan diri. Dalam banyak keadaan, anggapan itu benar. Tetapi pengalaman kecil di bus pada hari pertama di Slovakia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sering datang lebih awal daripada bahasa: kesediaan untuk untuk memberi pertolongan.
Pemuda itu tidak datang dengan kefasihan. Ia tidak menyelesaikan persoalan dengan pidato, tidak pula dengan keramahan yang dibuat-buat. Ia hanya hadir sebagai manusia yang melihat manusia lain sedang menghadapi kesulitan, lalu memilih untuk membantu. Dan, boleh jadi, memang di situlah bahasa pertama kemanusiaan bekerja.
Bukan pada tata bahasa. Bukan pada kamus. Bukan pada kefasihan melafalkan kata-kata yang sempurna.
Melainkan pada kesediaan sederhana untuk bertanya: Do you need help?
Selebihnya, dunia sering menjadi lebih mudah dijalani.
Bratislava, 21 Februari 2026
