Hari ini Jakarta menampar tanpa perlu mengangkat tangan.
Bukan dengan teriakan. Bukan pula lewat berita besar. Tamparannya datang lewat hal kecil yang sering luput, yang biasanya kita lewati sambil lalu: menunggu kendaraan.
Jam menunjukkan sekitar tiga sore, dan di kepalaku ada angka yang berdetak seperti timer: 16.07—jadwal kereta bandara. Angka itu terkesan biasa, tapi cukup berdaya mengubah napas jadi lebih pendek. Ojol kutunggu hampir setengah jam. Nihil. Tidak satu pun didapat. Seolah kota mendadak menutup pintu, membiarkan orang berdiri di ambang, menebak-nebak, hari sedang berpihak, atau sekadar lewat tanpa peduli.
Aku coba mencegat taksi yang melintas. Berkali-kali. Puluhan kendaraan berlalu begitu saja, sebagian seperti tidak melihat, sebagian memang tak bisa berhenti. Jalan tetap ramai. Matahari masih terang, tapi cahayanya sudah sedikit miring. Panas aspal seperti disimpan. Gedung-gedung memantulkan sore yang menyilaukan. Di sela klakson yang putus-putus, kegelisahan tumbuh pelan.
Sampai akhirnya, satu taksi berwana biru muda menepi.
Seperti biasa. Armada bersih. Kabin rapi. Pengatur suhu bekerja sempurna. Mesin berdengung halus, seolah kerja berat tidak pernah singgah di situ. Pengemudinya seorang ibu paruh baya. Cara bicaranya tenang, rapi, tidak terburu-buru. Dari luar, semuanya tampak prima—Jakarta, dalam wujud kendaraan itu, tampak seperti kota terbesar di dunia yang selalu siap melayani.
Begitu pintu tertutup, aku baru sadar betapa tegang pundakku. Aku menyebut tujuan dengan cepat, lalu seperti orang yang meminta maaf pada waktu: “Bu, saya mengejar kereta bandara. Jam empat lewat tujuh.”
Ibu itu mengangguk kecil, tidak heboh, tidak menjanjikan apa-apa. “Iya, Mas. Kita coba ya. Semoga lancar.”
Kalimatnya sederhana, tapi justru itu yang menenangkan. Tidak ada gaya “tenang saja, pasti bisa”. Hanya usaha yang wajar, dengan kesadaran bahwa Jakarta kadang punya kehendaknya sendiri.
Mobil bergerak. Lalu berhenti lagi. Lalu bergerak. Lalu berhenti. Irama sore yang akrab: macet sebagai bahasa ibu kota. Aku menatap jam sekali lagi, lalu menahan diri untuk tidak menatapnya terus-menerus, karena setiap menit yang lewat rasanya seperti menambah lapisan kecemasan.
Untuk mengalihkan pikiran, aku membuka obrolan. Seperti penumpang kebanyakan, aku memulai dari pertanyaan yang aman.
“Bu, kalau boleh tahu… apakah taksi mobil listrik sistem argonya apakah sama dengan taksi yang lain?”
Beliau tersenyum tipis, masih menatap jalan. “Sama, Mas. Bedanya di biaya operasional. Taksi mobil listrik lebih tinggi. Tapi setoran… ya tetap ada.”
Kata setoran itu jatuh begitu saja, tapi efeknya tidak ringan. Ada sesuatu di belakangnya—sesuatu yang selama ini jarang kita lihat kalau posisi kita selalu di kursi belakang.
“Setorannya harian ya, Bu?” tanyaku.
“Iya, Mas. Harian. Kita dikejar target harian juga,” jawabnya.
Aku mengangguk, pelan. Aku sempat ingin berhenti di situ—cukup tahu sistem argo sama, selesai.
Tapi entah kenapa, sore itu rasa ingin tahuku tidak mau pulang cepat. Mungkin karena tadi aku baru saja merasakan panik kecil: menunggu kendaraan, merasa kota tidak memedulikan rencanaku. Dan panik kecil itu membuatku lebih peka pada orang yang setiap hari hidup dari ketidakpastian yang sama—tapi dengan taruhannya jauh lebih besar.
“Kalau boleh tanya lagi, Bu…” Aku menimbang kata-kata. “Biasanya sehari kerja dari pagi sampai sore… ditarget berapa oleh perusahaan?”
Beliau tidak langsung menjawab. Ada jeda sepersekian, seolah yang dihitung bukan hanya angka, tapi juga tenaga.
“Untuk kendaraan yang saya pakai ini, targetnya tujuh ratus ribu sehari, Mas. Dari penghasilan itu, saya membawa pulang sekitar seratus lima puluh ribu bersih,” katanya, datar. “Kadang segitu, kadang kurang.”
Angka itu menempel di telingaku lebih lama daripada bunyi klakson di luar. Rp150 ribu. Bukan sekadar angka. Ini adalah waktu yang tidak kembali. Ini adalah tubuh yang sehari penuh menembus panas, banjir, dan macet. Ini adalah kesehatan yang pelan-pelan ditukar demi esok yang tidak jauh beda dengan hari ini.
Yang menampar bukan hanya besaran uangnya, tapi cara kisah itu disampaikan.
Tidak ada keluhan. Tidak ada nada menuntut simpati atau iba. Tidak ada “beginilah nasib”. Yang tampak justru martabat yang setia ia jaga. Elegan, anggun, rapi, seperti seragam tak terlihat yang ia pakai setiap hari.
Aku mencoba menahan reaksi yang terlalu emosional, karena aku tidak ingin obrolan itu berubah jadi panggung belas kasihan. Tapi tetap saja, aku merasa ada sesuatu yang tersingkap. Seolah Jakarta yang selama ini kupahami sebagai kota layanan, kota mobilitas, kota pilihan—mendadak memperlihatkan bagian wajahnya yang jarang kita tatap.
Ibu itu melanjutkan, masih dengan nada yang sama. “Kalau saya berhenti narik, malah bingung, Mas—setoran tetap jalan, kebutuhan juga. Jadi ya jalan dulu saja. Yang penting bisa pulang.”
Kalimat itu terdengar sangat biasa—dan justru karena itu ia mengiris. Ada kebijaksanaan yang lahir bukan dari teori, melainkan dari repetisi pahit yang tidak bisa ditolak.
Di titik itu, satu hal menjadi terang: kesusahan hidup tidak selalu berwajah derita. Kadang ia berwajah normal nan anggun. Dan kerja keras, betapa pun sering kita sebut sebagai kunci, tidak otomatis berbuah layak. Banyak orang bekerja keras justru untuk tetap berada di tepi—cukup untuk bertahan, tidak cukup untuk bernapas lega.
Aku teringat betapa sering kita memuji “armada bersih” dan “pelayanan rapi” seolah itu bukti bahwa sistem bekerja baik. Padahal, di balik armada bersih sering ada struktur kerja yang memindahkan risiko ke pundak pekerja. Target harus dikejar. Bahan bakar harus dibayar. Macet harus ditelan. Kalau banjir datang, itu bukan sekadar pemandangan dramatis untuk diunggah, melainkan pendapatan yang tercecer di genangan.
Kota menuntut kehadiran penuh, tetapi jarang memikirkan bagaimana para pekerja pulang.
Yang terlihat di permukaan adalah layanan rapi, profesional, harum. Yang terjadi di dasar adalah kehidupan rapuh yang dipaksa tampak normal.
Dan seperti tamparan yang datang dari arah berbeda, aku mendadak teringat pada diriku sendiri—pada refleks keluhan yang sering begitu mudah lahir pada hidup yang, kalau jujur, jauh lebih ringan.
Aku mengeluh karena ojol lama. Karena order sulit. Karena hujan. Karena macet. Karena hal-hal kecil yang tidak berjalan sesuai rencana. Padahal, sering kali yang kita sebut “masalah” itu berdiri di atas tumpukan kemudahan yang kita anggap “sudah semestinya”.
Kita pulang ke rumah yang aman, dan menganggapnya wajar. Kita bisa makan enak tanpa menghitung berkali-kali, dan menganggapnya biasa. Kita bisa merencanakan liburan, membayar sesuatu tanpa menunda, memilih sekolah untuk anak, menyusun rencana masa depan—lalu menyebut semua itu sekadar “standar hidup”.
Padahal, sesuatu yang biasa dimiliki bagi sebagian orang, bisa jadi, adalah mimpi seumur hidup bagi orang lain.
Kita terlalu sering taken everything for granted. Bukan karena kita jahat, melainkan karena kemudahan yang terus berulang bisa membuat hati kehilangan kepekaan. Kemudahan yang stabil bisa mengubah rasa syukur menjadi kebiasaan kosong. Dan hilangnya kepekaan itu, keluhan tumbuh subur. Bukan karena hidup kita buruk, tapi karena godaan ekspektasi kita yang diam-diam naik tanpa kita sadari.
Jakarta memang kota yang pandai merapikan wajah. Ia ramah pada kelas menengah, rapi pada penumpang, profesional pada layanan. Tapi kota yang rapi tidak otomatis membuat hidup para penopangnya ikut rapi. Ada paradoks yang terus berulang: kenyamanan semakin halus bagi penumpang, sementara beban tetap kasar bagi pengemudi.
Di atas permukaan, semua dibungkus istilah modern: “efisiensi”, “model bisnis”, “fleksibilitas”. Di bawah permukaan, ia terasa sebagai satu kata yang sunyi: rapuh.
Rapuh ketika sakit. Rapuh ketika kendaraan bermasalah. Rapuh ketika permintaan sepi. Rapuh ketika harga kebutuhan naik, sementara pendapatan tidak pernah benar-benar mampu menopang kerapuhan itu.
Aku menoleh ke depan. Wajah ibu itu tetap tenang, matanya fokus, tangannya stabil di kemudi. Tidak ada drama. Tidak ada “lihatlah penderitaan saya”. Yang ada hanya seseorang yang menjalani hari—seperti jutaan orang lain yang membuat kota ini tetap hidup, tapi jarang disebut namanya.
Aku menatap jam lagi. Waktu sudah mendekati empat. Angka 16.07 di kepalaku semakin terasa seperti pintu yang perlahan menutup. Tapi anehnya, kepanikan yang tadi menguasai dada mulai berubah bentuk. Ada rasa yang lebih jernih: rasa malu yang menderu. Rasa malu karena keluhanku barusan begitu cepat lahir, sementara di depan ini ada orang yang menjalani hari yang jauh lebih berat, tapi memilih tetap menjalaninya dengan anggun.
Aku ingin berkata sesuatu yang “tepat”, tapi kata-kata sering mereduksi makna saat berhadapan dengan kenyataan yang terlalu telanjang. Jadi aku hanya berkata, pelan: “Ibu hebat.”
Beliau tersenyum kecil—senyum yang seperti sudah terbiasa menolak pujian agar tidak berubah jadi beban. “Ah, biasa saja, Mas. Semua orang juga berjuang.”
Kalimat itu—“biasa saja”—lagi-lagi menampar. Karena bagi sebagian orang, “biasa saja” adalah bentuk ketegaran paling tinggi. Kemampuan menjalani yang berat tanpa mengubahnya jadi kebencian.
Kami sampai. Aku berhasil mengejar kereta—atau setidaknya, aku turun dengan cukup waktu untuk berlari tanpa kehilangan napas sepenuhnya. Saat membayar, aku menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa terasa seperti kasihan. Tapi di dalam hati, aku tahu, yang baru saja terjadi bukan sekadar perjalanan menuju bandara. Ini adalah perjalanan mengasah kembali kepekaan.
Hari ini Jakarta menamparku berkali-kali.
Semoga tamparan ini tidak menguap begitu saja ketika kembali ke Yogyakarta, lalu hari-hari berjalan seperti sebelumnya, dan kita kembali mengira seolah kemudahan hidup adalah “hak asasi” yang bisa ditagih kapan saja.
Stasiun Sudirman Baru, 4 Februari 2026.
