Hidangan Ilahi

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah menggambarkan Al-Qur’an sebagai Ma’dubatullah — hidangan Ilahi. Meski riwayat itu dinilai lemah, maknanya sangat indah dan tetap sejalan dengan pesan Al-Qur’an sendiri: bahwa kitab suci ini adalah rahmat dan petunjuk bagi manusia. Kata ma’dubah berasal dari kata adab, yang berarti himpunan nilai-nilai luhur dan tata laku yang indah. Dari akar kata ini kita memahami bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan hanya soal membaca, tetapi juga bagaimana bersikap dan beradab di hadapan firman Tuhan.

Membaca Al-Qur’an memerlukan adab. Ia tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat, melainkan juga kesiapan hati untuk mendengarkan kebenaran, meski kebenaran itu terkadang menegur. Adab berarti jujur pada diri sendiri, rendah hati dalam memahami, dan tidak menggunakan ayat untuk membenarkan hawa nafsu. Membaca dengan adab adalah membaca dengan kesadaran bahwa Allah sedang mengundang kita ke meja-Nya, menghadirkan jamuan untuk akal dan hati, bagi siapa pun yang datang dengan niat yang bersih.

Bayangkan sebuah meja panjang penuh dengan aneka hidangan. Setiap tamu datang dengan selera dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang mengambil nasi, ada yang memilih buah, ada yang sekadar meneguk air. Semua sah, selama yang diambil berasal dari meja yang sama. Namun yang tidak pantas adalah tamu yang membuka kulkas tuan rumah dan mengambil sesuatu yang tidak dihidangkan. Begitulah hubungan manusia dengan Al-Qur’an: setiap orang boleh menemukan makna yang berbeda, asalkan semuanya bersumber dari kitab yang sama.

Al-Qur’an adalah makanan bagi akal dan hati sekaligus obat bagi jiwa. Ia mengandung hikmah bagi yang berpikir, ketenangan bagi yang gelisah, dan petunjuk bagi yang mencari arah hidup. Setiap orang datang ke Al-Qur’an dengan wadah yang berbeda. Ada yang hanya menampung setetes makna, ada yang membawa segayung ilmu, dan ada pula yang menampung lautan hikmah. Namun, sekecil apa pun yang diperoleh, semuanya tetap bagian dari jamuan yang sama, jamuan kasih Tuhan bagi manusia.

Maknanya, setiap orang mendatangi Al-Qur’an dengan wadah berbeda: ada yang membawa iman yang kokoh, ada yang masih lemah, ada pula yang datang baru sekadar ingin mengetahui. Namun, semuanya tetap diundang ke meja yang sama, karena kasih sayang Allah meliputi seluruh makhluk-Nya.

Para ulama menggambarkan Al-Qur’an seperti permata yang memancarkan cahaya dari berbagai sisi. Bila dipandang dari satu arah, tampak warna tertentu; bila dilihat dari sisi lain, muncul cahaya yang berbeda. Tidak semua cahaya harus sama, karena perbedaan justru memperkaya pemahaman. Yang demikian adalah wajar, bahkan indah. Yang tidak wajar adalah menolak pancaran cahaya orang lain karena mengira hanya pancaran cahaya kita sendiri yang paling benar.

Ada kisah indah yang sering diceritakan para ulama. Seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Ayah, engkau membaca Al-Qur’an setiap hari, padahal engkau tidak memahami artinya. Apa gunanya?” Sang ayah menjawab, “Bawalah keranjang ini ke sungai, dan kembalilah dengan membawa air di dalamnya.” Anak itu menuruti perintah ayahnya, tetapi setiap kali tiba di rumah, airnya telah habis. Ia mengulang berkali-kali hingga berkata, “Aku tidak bisa membawa air, karena keranjang ini berlubang.” Sang ayah tersenyum, “Benar, engkau tidak membawa air, tetapi lihatlah keranjang itu kini bersih.”

Kisah sederhana ini menggambarkan hakikat membaca Al-Qur’an. Seseorang mungkin belum memahami seluruh maknanya, tetapi setiap huruf yang dibaca tetap membersihkan hati. Seperti keranjang yang berlubang, pikiran manusia mungkin tidak mampu menampung semua hikmah, namun setiap usaha dan niat untuk memahami adalah proses penyucian diri. Nabi Muhammad dan para sahabatnya senantiasa tadarus — bukan sekadar bergiliran membaca, tetapi saling belajar, mendiskusikan makna, dan menumbuhkan pemahaman yang hidup. Inilah makna tadarus yang sejati: interaksi antara ilmu dan iman, antara membaca dan merenungkan.

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk terus membaca, bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati. Perintah “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” bukan sekadar ajakan membaca teks, melainkan membaca kehidupan: membaca diri, membaca dunia, membaca hikmah yang tersembunyi di balik setiap peristiwa. Membaca dengan nama Tuhan berarti membaca dengan kesadaran dan kasih, karena pengetahuan tanpa kasih hanya melahirkan kesombongan.

Semakin sering seseorang “datang ke meja itu”, semakin dalam rasa yang ditemukan. Setiap kali membuka mushaf, setiap kali menatap huruf demi huruf, sesungguhnya kita sedang menghadiri jamuan dari Tuhan. Maka yang penting bukan seberapa banyak ayat yang dibaca, tetapi seberapa dalam rasa syukur yang hadir di setiap bacaan itu.

Al-Qur’an adalah hidangan yang tidak pernah habis disajikan. Ia memberi ruang bagi semua orang: bagi yang baru belajar mengeja, bagi yang sedang menelusuri makna, dan bagi yang telah menjadikan ayat-ayatnya sebagai napas kehidupan. Di hadapan hidangan Ilahi ini, yang dituntut dari manusia hanyalah dua hal, adab dan ketulusan. Adab untuk menghormati Sang Pemberi Jamuan, dan ketulusan untuk menikmati setiap suapan makna yang disajikan. Wallahua’lam.

Tulisan di atas adalah nukilan dari Khutbah Jumat di Masjid Al-Muqtashidin, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia, 31 Oktober 2025.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.