Beberapa hari terakhir, mendapat tugas istimewa: menjadi panitia penyelenggara peluncuran buku “Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023” karya Prof. Mitsuo Nakamura, seorang antropolog Jepang yang sejak 1970-an meneliti dan menuliskan banyak hal tentang Islam Indonesia. Di balik riuh rendah persiapan teknis acara, justru muncul ruang hening untuk berefleksi. Sebab, dalam proses itulah kisah tentang Prof. Abdul Kahar Mudzakkir—Rektor pertama Universitas Islam Indonesia—kembali hadir di hadapan kita.
Kisah ini sebenarnya sederhana namun sarat makna. Diceritakan oleh salah satu penanggap diskusi buku, Pak Achmad Charris Zubair bahwa Prof. Kahar menolak kursi jabatan menteri agama bukan sekali, melainkan dua kali. Sekali di awal kemerdekaan, sekali di era Orde Baru. Padahal, bagi banyak orang, kursi menteri adalah puncak kehormatan. Namun baginya, kekuasaan bukanlah tujuan. Ia memilih jalan sunyi, jalan yang jarang ditempuh, menegaskan bahwa ilmu dan kerendahan hati jauh lebih mulia daripada sorot lampu jabatan.
Dari kisah itu terhampar sebuah pelajaran: warisan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada jabatan yang pernah didudukinya, melainkan pada nilai yang ditinggalkannya. Kerendahan hati Prof. Kahar adalah pusaka yang melampaui masa. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin tidak harus berada di puncak struktur, tidak harus bergaung dalam gegap gempita, melainkan cukup dengan konsistensi menjaga nilai dan keberanian menolak godaan kekuasaan.
Di tengah dunia yang semakin cepat, di mana orang berkejaran meraih gelar dan posisi, warisan itu terasa kian langka. Bukankah kini banyak yang menakar diri dari jumlah “likes” atau viralitas di media sosial? Ukuran keberhasilan seolah bergeser menjadi soal berapa sorot kamera yang mengarah, bukan seberapa tulus langkah yang dijalani.
Budaya hari ini begitu akrab dengan sorotan. Orang terbiasa mencari panggung, entah di ruang politik, akademik, maupun media digital. Popularitas menjadi candu, dan pengakuan publik serupa mata uang yang nilainya terus dipuja. Dalam arus itu, kisah Prof. Kahar seakan hadir sebagai oase: mengingatkan bahwa substansi lebih utama daripada sorotan.
Penolakan beliau terhadap jabatan menteri bukanlah sikap anti-politik, melainkan pernyataan bahwa pengabdian sejati tidak harus selalu disetarakan dengan kekuasaan formal. Ia memilih membaktikan diri di dunia pendidikan, mendidik generasi, membangun kampus, dan menanamkan nilai. Inilah bentuk kepemimpinan yang jarang kita temui: kepemimpinan yang lebih mementingkan isi daripada kemasan, lebih memilih meninggalkan jejak abadi ketimbang menorehkan nama dalam daftar jabatan.
Refleksi Generasi Penerus
Di titik inilah, refleksi terasa makin dalam. Apa artinya kisah itu bagi generasi hari ini? Dalam dunia yang penuh godaan pencitraan, teladan Prof. Kahar menantang kita untuk jujur pada diri sendiri. Apakah yang dicari benar-benar substansi atau sekadar tepuk tangan? Apakah pengabdian dilakukan untuk kebaikan bersama atau demi gengsi pribadi?
Generasi penerus, baik mahasiswa, dosen, maupun pemimpin muda, dihadapkan pada pilihan: mengikuti arus besar yang mengagungkan sorotan, atau menapak di jalan sepi yang sering diabaikan. Jalan sepi itu memang tidak menjanjikan popularitas, tetapi di situlah terjaga kemurnian niat dan ketulusan hati.
Menjadi bagian dari acara peluncuran buku Prof. Nakamura membuka pintu menuju renungan itu. Buku yang berisi kisah panjang Yogyakarta menghadirkan konteks sejarah, sementara kisah Prof. Kahar menghadirkan nilai moral. Keduanya berkelindan, menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin yang memantulkan wajah hari ini.
Warisan kerendahan hati Prof. Kahar bukanlah milik generasi lampau semata. Ia adalah api yang mesti terus dijaga agar tidak padam. Bukan hanya dengan peringatan seremonial atau tugu peringatan, melainkan dengan praktik nyata: membangun integritas, menghidupkan budaya ilmiah, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Cahaya kebaikan itu bisa dijaga dalam hal-hal kecil sekalipun: mengajar dengan ketulusan, melayani dengan keikhlasan, atau menulis dengan kejujuran. Tugas generasi penerus adalah memastikan cahaya itu tidak meredup, meski dunia berubah begitu cepat.
Kini, di pundak generasi penerus, tanggung jawab itu terletak. Bukan tanggung jawab yang ringan, tetapi juga bukan beban yang mustahil. Sebab, sejarah telah menunjukkan bahwa satu sikap rendah hati mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada seribu gelar.
Kini, sebagai generasi penerus, tanggung jawab menjaga cahaya kebaikan itu ada di tangan kita. Cahaya yang tidak boleh padam, meski zaman berubah. Cahaya yang harus terus menyala, bukan untuk membesarkan nama, melainkan untuk menerangi jalan bersama.
