Delapan dirham yang hilang

Delapan dirham. Jumlah yang tak seberapa, tetapi di tangan Nabi Muhammad saw. menjelma pelajaran tanpa batas. Pagi itu beliau beranjak ke pasar, niatnya sederhana: membeli pakaian untuk dirinya. Namun setiap langkah selalu dipertemukan dengan wajah-wajah yang lebih membutuhkan. Seorang miskin yang menggigil tanpa baju—maka pakaian yang baru dibeli pun dilepaskan dari genggamannya, diserahkan tanpa ragu. Sisa dirham dibawa pulang, tapi di jalan ada lagi yang lapar, yang tak punya apa-apa. Delapan dirham itu pun berpindah tangan, hingga tak tersisa sehelai kain ataupun sekeping uang.

Nabi pulang dengan tangan kosong, namun dengan hati yang penuh. Ia tidak membawa pulang pakaian baru, tetapi membawa pulang martabat manusia lain yang dijunjungnya. Kisah ini, meski sanadnya tidak sekuat hadis sahih, beredar luas dalam literatur sirah dan kitab hikmah. Substansinya sejalan dengan gambaran al-Qur’an tentang Nabi sebagai sosok penuh kasih sayang, yang mendahulukan orang lain (itsar) bahkan atas dirinya sendiri (QS. Al-Hasyr [59]:9).

Jika dihitung dengan ukuran hari ini, delapan dirham itu tak lebih dari tiga ratus ribuan rupiah. Jumlah yang mungkin habis dalam sekali makan siang di restoran mewah para pejabat, atau lenyap dalam satu kali gesekan kartu kredit. Tetapi justru dari jumlah kecil itulah Nabi menunjukkan kelapangan hati yang besar. Dari delapan dirham lahir kemuliaan; dari miliaran dirham para penguasa kita justru lahir kerakusan.

Di negeri ini, keteladanan itu perlahan lenyap. Para pemimpin jarang, bahkan nyaris tak ada, yang sanggup berbuat sebagaimana dicontohkan Nabi—meski harta mereka berlipat ganda dari delapan dirham itu. Keserakahan telah menjelma wajah sehari-hari kekuasaan. Rasa tidak pernah cukup, meski perut sudah penuh. Kekayaan dipersempit maknanya menjadi tumpukan benda: rumah yang semakin luas, kendaraan yang semakin banyak, rekening yang semakin gendut. Sementara orang miskin tetap dibiarkan telanjang dan lapar di jalanan.

Krisis bangsa ini pada hakikatnya bukan semata krisis ekonomi. Kita bukan negeri yang miskin sumber daya. Tanah kita subur, laut kita luas, sumber daya alam berlimpah. Tetapi keserakahan para penguasa telah menjadikan kelimpahan itu kutukan. Sumber daya yang seharusnya jadi berkah berubah menjadi komoditas yang diperebutkan. Rakyat hanya kebagian remah, sementara para elite menghisap inti sari tanpa rasa bersalah.

Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1994) menegaskan, peringatan Maulid Nabi bukanlah ibadah baku, melainkan wasilah—sarana untuk menumbuhkan cinta kepada Nabi. Cinta itu pun harus bermakna: tidak cukup dilantunkan dalam selawat, harus diwujudkan dalam keteladanan nyata.

Kita tentu sadar, tidak akan pernah ada lagi manusia seperti Nabi Muhammad saw. Beliau satu-satunya, teladan abadi yang tak bisa disamai. Persoalannya, bahkan sekadar meniru jejak kecilnya pun kita gagal. Sekadar mengambil pelajaran dari delapan dirhamnya pun para pembesar negeri ini enggan.

Bangsa ini tidak akan kokoh hanya dengan deretan angka pertumbuhan ekonomi, dengan megahnya infrastruktur, atau dengan pesta demokrasi lima tahunan. Semua itu bisa jadi kosong jika kehilangan roh keteladanan. Sejarah penuh dengan contoh negara yang runtuh bukan karena kekurangan harta, tetapi karena korupsi yang merajalela.

Dan di situlah krisis bangsa ini bermula: bukan karena kurang sumber daya, bukan karena kecilnya peluang, melainkan karena penguasa yang serakah. Kita sedang dipimpin oleh mereka yang merasa tak pernah cukup, yang mengira kekayaan adalah apa yang menumpuk di lemari dan rekening, bukan apa yang bisa dibagi kepada sesama. Krisis kita adalah krisis moralitas.

Maulid Nabi adalah teguran bagi kita semua, terutama bagi mereka yang berkuasa. Bangsa besar tidak dilihat dari apa yang ia miliki, melainkan dari seberapa ia mampu memberi, memuliakan yang lemah, dan menegakkan keadilan. Kita tidak sedang mencari Nabi baru. Kita tahu tak akan ada. Tapi kita bisa meneladani beliau—meski hanya setetes dari samudera akhlaknya.

Dan dari situlah bangsa ini seharusnya berdiri: bukan dengan keserakahan yang mempersempit makna kaya, melainkan dengan kelapangan hati yang menjadikan cukup sebagai kemewahan, dan memberi sebagai jalan kemuliaan. Sebab, jika delapan dirham saja bisa menjadi simbol kemuliaan di tangan Nabi, maka seribu kali lipat dari itu yang berubah jadi kerakusan hanya akan menjadi tanda kehancuran. Wallahua’lam.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.