Kecohan kecepatan

Di zaman ini, rasanya segala hal bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Pekerjaan harus selesai instan. Viral harus dalam hitungan jam. Keputusan diambil secepat kedipan. Bahkan, kebahagiaan pun seolah bisa dicapai tanpa penantian. Kita hidup dalam dunia yang terus mengagung-agungkan kecepatan.

Namun, di tengah arus tersebut, kita perlu berhenti sejenak, menepi, dan merenung: benarkah segala yang baik itu harus serba cepat? Atau justru, seperti pepatah lama bilang, good things take time?

Metafora anak tangga

Mencapai puncak tentu impian banyak orang. Tapi, bagaimana cara kita sampai ke sana sangat menentukan. Ada orang yang memilih naik lift—cepat, efisien, tak perlu berkeringat. Tapi pernahkah terpikir risiko jika lift itu bisa rusak, penuh sesak, bahkan jatuh mendadak?

Sebaliknya, ada yang memilih meniti anak tangga. Langkah demi langkah. Pelan. Melelahkan. Tapi ia tahu: jika jatuh pun, ia hanya akan tergelincir satu-dua anak tangga, bukan terjerembab sampai ke dasar.

Hidup yang bertumpu pada proses seperti meniti anak tangga. Kita belajar menahan diri. Menerima rasa sakit. Menyadari bahwa kecepatan tak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan. Yang pelan bukan berarti lemah, dan yang cepat bukan selalu kuat.

Belajar dari sejarah

Sejarah bicara banyak tentang hal-hal yang butuh waktu. Lihat saja, Tembok Besar Cina dibangun selama ratusan tahun. Masjidil Haram di Mekkah, diperluas dan direnovasi dari generasi ke generasi. Bahkan, Republik Indonesia, kemerdekaannya dirancang dalam rentang panjang, penuh luka dan jatuh-bangun.

Tak ada pencapaian agung yang datang semalam. Bangunan peradaban, baik itu negara, lembaga, maupun karakter manusia, semuanya memerlukan waktu. Di dalam waktu itu, selalu ada proses, kegagalan, refleksi, hingga akhirnya ketangguhan terbentuk.

Paradoks kecepatan

Mau cepat kaya? Bisa. Meski, jalan pintasnya kadang menyimpang dari etika. Mau cepat pintar? Bisa juga. Tapi mungkin hanya hafal tanpa mengerti.

Mau cepat terkenal? Sangat bisa. Walau ketenaran yang tiba-tiba bisa membawa kita pada rasa malu yang tak terduga.

Tentu, kita tidak sedang mengecam kecepatan. Namun, perlu diingat bahwa kecepatan tanpa kehati-hatian, tanpa proses yang matang, sering kali membawa kita pada kebangkrutan nilai. Kita mulai mengabaikan pentingnya gagal. Padahal kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan.

Hal-hal yang baik butuh waktu, karena waktu memberi kita ruang. Ruang untuk belajar, untuk salah, untuk memperbaiki, dan untuk berproses menjadi dewasa. Tanpa proses, kita hanya berlari tanpa arah, seperti mobil tanpa rem yang meluncur di jalan menurun.

Lihatlah pohon besar yang menjulang tinggi. Apakah ia tumbuh dalam satu-dua tahun? Tidak.

Pohon itu butuh puluhan, bahkan ratusan tahun untuk menjadi peneduh bagi sekitarnya. Akarnya menghujam dalam, batangnya menebal perlahan, daunnya tumbuh menyesuaikan musim.

Justru karena proses itulah, ia bisa bertahan lama. Bahkan saat badai datang, ia kokoh dan tak roboh.

Kita pun begitu. Bila ingin hidup yang berakar kuat, kita harus berani memberi diri waktu. Waktu untuk berproses dan bertumbuh.

Nikmati setiap proses

Kita tak perlu malu menjadi lambat, sebagaimana kita tak perlu terkecoh pada mereka yang terlihat cepat.

Kita hanya perlu jujur pada jalan sendiri, apakah ini jalan yang benar, yang membawa kita pada versi terbaik dari diri, atau hanya jalan pintas yang penuh jebakan?

Good things take time. Maka, izinkan diri kita tumbuh perlahan. Karena yang cepat datang, cepat pula hilangnya. Tapi yang lama bertahan, pasti pernah melalui jalan yang panjang.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.