Menyisir takdir

Uraian mengenai takdir bukanlah pembahasan yang sudah muncul sejak masa Rasulullah saw. Karena, pada setelah masa pemerintahan Nabi Muhammad saw., tepatnya, setelah wafatnya Sayyidina Ali, pembahasan takdir baru dibicarakan. Saat itu, menurut Sheikh Al Azhar dan banyak ulama lain, Muawiyah bin Abu Sufyan dan generasi-generasi sesudahnya ingin menutupi kesalahannya dalam pemerintahan, ingin mengalihkan kesalahan itu dari diri mereka dengan berkata: semua ini terjadi atas takdir Tuhan. Seakan-akan manusia tidak mempunyai pilihan atau usaha dan harus menerima pemerintahannya serta kekejaman-kekejaman dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukannya. 

Sejak itu bermula pembahasan tentang takdir. Tentunya, ada ulama-ulama yang tidak setuju dengan pandangan semacam ini, seakan-akan melemparkan tanggung jawab kepada Allah dan membebaskan dirinya dari takdir. Ulama-ulama itu secara lantang berkata: tidak ada takdir. Manusia bebas melakukan apa saja. 

Lalu, muncullah kelompok ketiga, dan kelompok ketiga itulah yang dianut oleh mayoritas umat Islam di dunia ini, yakni faham Al-imamul Asy’ari yang berkata bahwa: ada takdir Tuhan, namun ada juga usaha manusia yang keduanya dapat bergandengan, karena manusia dapat memilih dari sekian banyak takdir Tuhan untuk ditempuhnya. 

Jika kita merencanakan untuk pergi ke suatu kota yang dilanda wabah, kita punya peluang untuk menghindar dari wabah itu dengan tidak mengunjungi kota tersebut. Kalau kita bersandar pada suatu pohon yang hampir roboh, maka bisa jadi pohon itu roboh dan menimpa kita, tetapi kita punya pilihan setelah mengetahui bahwa pohon itu akan roboh, kita punya pilihan untuk berpindah dari posisi itu ke posisi yang lain. Dengan demikian, manusia dapat berpindah dari satu takdir ke takdir lain yang ditetapkan oleh Allah Swt. 

Tetapi, perlu kita ketahui, bahwa sejatinya tidak ada satupun yang terjadi di alam raya ini kecuali berdasarkan takdir Tuhan. Matahari beredar berdasar takdir Tuhan. Takdir adalah ukuran dan kadar. Karena itu, matahari tidak mungkin terlambat semenit pun dari masa terbenamnya. Tidak mungkin juga terlambat sedetikpun dari masa terbitnya. Karena sudah ada ukuran yang ditetapkan Allah, sudah ada sistem yang ditetapkan Allah Swt.

Rumput-rumput menghijau berdasar sistem yang ditetapkan Allah, dan takdir ada ukurannya, demikian juga kalau rumput itu layu dan mengering, semua ada takdirnya. Tidak benar kalau orang berkata hanya kelahiran, kematian, dan jodoh yang takdir. Kita membaca tulisan di sini adalah atas takdir Allah Swt. walaupun sebelumnya kita bisa tidak membaca tulisan ini dan pergi ke takdir Tuhan yang lain. Jadi, manusia mempunyai pilihan. 

Takdir dan kekuasaan

Kekuasaan yang diberikan Allah kepada seseorang juga berdasar takdirnya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

Sampaikanlah, katakanlah, ajarkanlah wahai Nabi Muhammad, bahwa Allah menganugerahkan kekuasaan kepada siapa yang dikehendakinya, dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendakinya, memuliakan siapa yang dikehendakinya, dan merendahkan siapa yang dikehendakinya, tapi dalam genggaman Allah segala macam kebajikan.

Jangan duga yang dianugerahi Allah kekuasaan hanya orang-orang baik. Penguasa pada zaman Nabi Ibrahim, Namrud, dinyatakan oleh Al-Quran, âtâhullâhul-mulk, Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan, kerajaan.

Karena untuk memperoleh sesuatu, apapun itu, sudah ada takdir, ada jalan. Ada jalan yang baik, dan ada juga jalan yang buruk. 

Kalau seorang meraih sesuatu karena perhatiannya terhadap tuntunan Allah, karena perhatiannya terhadap norma-norma yang seharusnya dilakukannya, maka ketika itu dia memperolehnya atas restu Allah. Tetapi kalau dia memperolehnya dengan jalan yang tidak benar, kalau dia memperolehnya dengan cara-cara yang tidak halal, maka ketika itu, ia memperolehnya atas izin Allah, tetapi bukan atas restu Allah.

Allah mengizinkan kekufuran, tetapi, la yardha li’ibadihil kufr. Allah tidak merestui kekufuran itu. Kita diberi jalan, silakan pilih jalan mana yang menurut kita, kita akan tempuh. Kalau kita menelusuri jalan kebaikan, kita direstui Allah. Kalau jalan yang kita pilih bukan jalan kebaikan, Allah mengizinkan kita karena Dia telah memberikan manusia kebebasan untuk memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk. 

Menyikapi pilpres

Pemilihan umum telah kita laksanakan. Kita belum tahu secara pasti siapa pemenangnya sebelum diumumkan oleh KPU. Bagaimana sikap kita? 

Kita menanti, siapapun yang menang dia adalah putra Indonesia. Jadi pemenangnya bukan yang nomor 1, atau nomor 2, atau nomor 3, tapi pemenangnya adalah bangsa Indonesia. 

Karena itu, mari kita legawa seandainya yang kita pilih bukan dia pemenangnya. Kita doakan dia, mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepadanya keberkatan, menganugerahkan kepadanya posisi yang tidak kurang dari posisi presiden atau wakil presiden. Karena sejatinya lapangan pengabdian sungguh luas, bukan hanya untuk presiden dan wakil presiden. Bisa jadi, ada lapangan pengabdian yang lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah daripada jabatan presiden atau wakil presiden. 

Sebaliknya, kalau yang kita pilih ternyata ditakdirkan menjadi presiden, kita bersyukur sambil berdoa, mudah-mudahan dia tidak tergoda. Mudah-mudahan rayuan iblis dan dunia menjauh darinya, dan mudah-mudahan kita, rakyat, dapat taat dan patuh kepadanya dalam segala yang diperintahkannya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Demikian seharusnya sikap kita. 

Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran:

Tidak ada yang terjadi dalam diri kamu atau di pentas bumi ini kecuali Allah telah mengetahuinya sebelum itu wujud. Allah sudah tahu sebelum itu wujud. Hendaklah kalian menyadari hal tersebut sehingga kalian tidak bersedih atas sesuatu yang tidak kalian raih, dan tidak juga berbangga-bangga, berfoya-foya dengan sesuatu yang kalian raih. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang berbangga-bangga lagi angkuh.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Artikel ini adalah potongan khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Al-Muqtashidin, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia, pada Jumat, 16 Februari 2024.

Referensi:

Shihab, M. Quraish. Mutiara Hati: Mengenal Hakikat Iman, Islam dan Ihsan. (2017): Lentera Hati.

Shihab, M. Quraish. Lentera Hati: Pijar Hikmah dan Teladan Kehidupan. (2021): Lentera Hati.

Shihab, M. Quraish. Kumpulan 101 Kultum tentang Islam. (2022): Lentera Hati.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.