Kalis dalam kelas

Manusia menikmati kelas dan status sosial yang hierarkis. Semakin berpunya, manusia cenderung semakin memperkaya dan mengisolasi diri. Di saat yang sama, kontribusi mereka terhadap kesejahteraan publik juga semakin terbatas. Inilah salah satu argumen utama Nelson D. Schwartz dalam karyanya The Velvet Rope Economy: How Inequality Became Big Business (2020).

Perilaku ini disambut oleh logika kapital yang kekal: uang selalu bermuara ke arah mereka yang lebih berpunya, yang lebih menjanjikan, dan yang lebih menjamin laba. Kondisi ini menciptakan kelas ketiga setelah the have not dan the have: the have more. Bahkan, Schwartz menunjukkan bahwa setiap bisnis yang mendukung isolasi kaum the have more ini belakangan semakin menjanjikan.

Hasilnya? Kita semakin menikmati pusaran kelas-kelas sosial, baik secara individu maupun berkelompok. Makin elit kelas kita, kita makin merasa superior dan tidak selera jika diperlakukan setara.

Dari program loyalitas keanggotaan maskapai penerbangan, marketplace, karier dalam dunia kerja, gelar akademik, hingga pemeringkatan kampus, semuanya menebalkan dampak yang sama: kelas sosial yang berjenjang.

Tentu, perspektif ini tidak sedang mengatakan bahwa menjadi berdaya karena kepemilikan atas sesuatu adalah sebuah kejahatan. Perspektif ini ingin menggarisbawahi, bahwa sikap dan perilaku manusia setelah memasuki kelas sosial tertentu cenderung lebih berkhidmat pada kekuasaan, sementara hanya segelintir yang merasa bahwa privilese tersebut sejatinya merupakan instrumen untuk menebar manfaat dan memberdayakan sesama.

Pertanyaan berikutnya, apakah tren yang diulas Schwartz ini menguatkan argumen bahwa alam sadar manusia saat ini lebih banyak disetir oleh kepemilikan materi? Misal pun demikian, fenomena pendangkalan ini bukanlah tren baru. Ratusan tahun sebelum tulisan Schwartz terbit, sudah muncul sejumlah pandangan yang percaya bahwa bantalan ekonomi seseorang akan menentukan bagaimana ia berpikir. Mari tengok sekitar, apakah kesadaran lingkungan kita lebih banyak dibentuk oleh kepemilikan materi?

Lantas, apakah tulisan Schwartz ini menunjukkan senjakala peradaban kita? Nampaknya tidak. Selama ruang non-material seperti nilai, agama, gagasan, dan norma belum punah, kesempatan untuk memutar balik pendangkalan peradaban ini masih terbuka. Ruang agar kita kalis dalam melihat kelas juga masih begitu luas untuk dieksplorasi.

Kebutuhan dan kepemilikan atas materi (uang, jabatan, kekuasaan, predikat sosial, dan yang serupa lainnya) membuat ruang berpikir kita semakin sempit dalam memaknai kehidupan.

Agar ia tetap luas, kita tidak boleh lelah melibatkan aspek non-materi untuk tetap berperan. Di tengah realitas bahwa kelas-kelas sosial tidak mungkin kita hapuskan, setidaknya, kita dapat memilih jalan untuk berupaya berpikir kalis dalam tren kelas tersebut. Semoga.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.