Hikmah dalam dakwah

Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi pendorong terbukanya curahan informasi dari berbagai sisi. Setiap saat, suguhan informasi selalu terlimpah, tersaji, dan terbuka untuk semua lapisan masyarakat.

Tren ini melahirkan pendangkalan. Dalam memahami persoalan, masyarakat dilelahkan dengan kepungan informasi yang terkadang sengaja digiring menuju opini tertentu.

Oleh karenanya sebagai umat muslim kita memiliki kewajiban untuk senantiasa berpikir jernih sembari mengajak siapapun agar tetap menuju jalan-jalan kebaikan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125 agar kita mengajak siapapun: anak, istri, keluarga, masyarakat, muslim, maupun non-muslim, menuju jalan Tuhanmu. Sabil adalah jalan kecil, sirath jalan lebar. Semua sabil dapat bermuara menuju jalan yang lebar. Tetapi kalau Al-Quran menggunakan kata sirath, pasti jalan lebar yang baik. Sementara sabil adalah jalan kecil.

Jalan-jalan yang kecil ini, ketika ia baik, maka ia akan mengantar kita ke jalan besar (sirath), dan itulah sebabnya dalam Al-Fatihah kita meminta untuk ditunjukkan sirathal mustaqim. Karena itu sabil banyak, maka sabil itu sejatinya ada yang baik ada yang buruk. Jika jalan Tuhan, pasti baik.

Ajaklah orang belajar, berangkat umrah, berzakat, berbuat baik, itu semua sabil. Jalan-jalan kecil yang baik. Semua jalan yang baik itu memiliki ciri sebagai jalan menuju kedamaian, subulussalam.

Ajaklah orang ke jalan yang baik, apapun itu, siapapun mereka, ajak mereka, tetapi dengan cara hikmah. Hikmah terambil dari akar kata yang awal mulanya bermakna kendali, berarti setir. Kendali ini mengantar kita kepada sesuatu yang baik, atau menghindari sesuatu yang buruk.

Menyetir mobil itu bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman. Tentu seseorang tidak bisa kita simpulkan memiliki keterampilan menyetir jika hanya tahu caranya, tetapi tidak mampu mempraktikkannya. Seseorang bisa dikatakan mengetahui hikmah jika tahu dan mampu menjalankan, mampu mengamalkan.

Dengan kata lain, hikmah adalah ilmu yang diamalkan, dan amalan yang berdasar pada ilmu. Berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

Kita sebagai manusia ditugaskan untuk belajar mencari ilmu pengetahuan yang amaliah, yang bisa dipraktikkan, yang bisa diamalkan oleh diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Agar kita betul-betul meneliti. Tidak sekadar asal mengajar, tidak sekadar asal berpendapat. Tidak sekadar kita sebarkan tanpa kita cermati.

Sementara ulama berpendapat, kita tidak boleh menjadi seperti manusia yang mencari kayu bakar di malam hari. Dalam kegelapan malam, kita tentu tidak bisa membedakan mana kayu dan mana batu. Maknanya, kita harus betul-betul memilih dan memilah apa yang kita pelajari dan kita ajarkan. Tidak sekadar asal jadi.

Selain ilmu yang amaliah, hikmah juga mengandung makna bahwa manusia juga harus melakukan amalan yang berdasarkan ilmu. Ilmu sendiri adalah bagian dari potensi manusia, di mana saat menggabungkan zikir dan pikir akan menghasilkan perpaduan iman dan ilmu. Iman menentukan arah yang dituju, ilmu menjadikan cepat sampai ke tujuan.

Sekali lagi, hikmah tidak sekadar pengetahuan. Hikmah adalah pengetahuan dan pengamalan.

Wal mauidhotil hasanah adalah ucapan-ucapan yang baik, yang menyentuh hati. Bisa jadi saat kita berbicara, jika kita tidak hati-hati akan mengenai hati orang, tetapi sekaligus menyakitinya. Tentu ini bukanlah ucapan yang baik. Dari ayat ini agama kita berpesan agar kita mencari kata-kata yang indah dan menyentuh, memberi kesan baik kepada orang.

Wa jadilhum billati hiya ahsan. Berdiskusilah dengan orang yang tidak sependapat dengan kita. Mereka bisa jadi adalah non muslim, maupun sesama muslim. Berdiskusilah dengan mereka, gali kebenaran untuk meraih hikmah, jangan jelekkan mereka di belakang. Agama berpesan, berbeda pendapat tidak cukup disampaikan dengan cara yang baik, melainkan dengan cara yang terbaik.

Cara yang terbaik antara lain, kita ingin mencari kebenaran siapapun yang mengucapkannya.

Jangan memvonis sesat kepada siapapun, karena Allah yang lebih tahu dari siapapun, siapa yang sesat. Allah juga yang tahu siapa yang memperoleh petunjuk. Jika kita berbeda pendapat dengan sesama muslim, jangan mengatakan kamu kafir, kamu sakit, kamu sesat. Allah lebih tahu. Janganlah memvonis. Surga, neraka, adalah hak prerogatif Allah.

Pesan yang dapat kita ambil dari ayat ini sekaligus menebalkan kembali kewajiban kita sebagai umat muslim untuk melakukan dakwah. Ajakan untuk menuju jalan Tuhan tentu tidak bisa diukur dari sekadar gelak tawa maupun ratap tangis dari dakwah yang kita lakukan. 

Melainkan, keberhasilan dakwah dapat kita lihat dari adakah sesuatu yang baru yang melekat di benak sasaran dakwah kita. Sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, atau boleh jadi sudah diketahui sebelumnya, namun masih salah paham. Boleh jadi mereka sudah tahu, tapi belum berkesan. 

Selain dakwah harus dilakukan dengan cara yang baik, Allah juga berpesan bahwa kita harus mewarisi perjuangan Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan agama Islam, serta menjadikan sikap Rasul sebagai pegangan dalam situasi apapun, termasuk saat menghadapi lawan.

Sebagaimana lanjutan surat An-Nahl ayat 126, Allah Swt berfirman, bahwa jika kita membalas, balaslah dengan persis sama dengan perbuatan orang kepada kita. Kita boleh membalas, namun dengan syarat: harus persis sama. Tidak boleh sekadar sama, atau bahkan lebih.

Namun, jika kita sabar, maka pastilah kesabaran itu lebih baik bagi kita yang mampu bersabar. Orang yang tidak membalas, bukan berarti lemah, namun justru dapat diartikan ia mampu menahan gejolak nafsu. Setiap kesabaran adalah kekuatan.

Hidup ini mestinya tidak terlepas dari kesabaran. Orang kaya perlu sabar, demikian juga orang miskin, orang sakit, maupun orang sehat. Tidak ada yang bisa melakukan sabar kecuali orang yang kuat. Sehingga, dalam melaksanakan ajakan menuju jalan Tuhan, kita juga perlu bersabar.

Hal penting yang juga perlu kita ambil pelajaran dari ayat-ayat ini adalah, jika kita perhatikan redaksi ayat lebih dekat, di mana Allah berkata “jika kamu, umat Islam, qibtum”, sementara perintah bersabar dalam lanjutan di ayat 127, “wasbir”, khusus ditujukan untuk Nabi Muhammad. Nabi Muhammad saw. tidak diperintahkan untuk membalas.

Artinya, semakin tinggi derajat seseorang, semakin lapang dadanya, semakin bersabar dia. Jika kita ingin Allah menaikkan derajat kita, maka sudah seharusnya kita melatih diri kita untuk semakin mampu bersabar.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Artikel ini adalah potongan khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Ulil Albab, Universitas Islam Indonesia, pada Jumat, 2 Juni 2023.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.