Semalam, sebelum mendampingi si kecil tidur di kamarnya, terdengar lirih sedikit nasihat tentang jodoh yang membekas di benak, dari sebuah siniar. Nasihat ini mendorong kita merefleksikan ulang makna jodoh yang selama ini kita mengerti.
Jodoh itu apa?
Pengertian umum yang sering kita dengar, jodoh selalu diartikan dengan perjumpaan antara laki-laki dan perempuan untuk menjalani hidup bersama.
Sebenarnya, dalam konsep yang lebih luas, jodoh dapat dimaknai sebagai kesesuaian apapun dalam hidup kita yang saling memperkuat. Artinya, jodoh merupakan kata kerja yang dilakukan bersama: oleh diri kita dan oleh apapun yang kita jodohi. Tidak hanya sepihak.
Tidak ada apapun yang bisa kita sebut sebagai jodoh kita jika karenanya kita tidak menjadi lebih kuat. Apapun di luar diri kita yang mengantarkan kita menjadi bahagia, menghasilkan, dan menumbuhkan maka selayaknya kita sebut jodoh: baik itu pasangan hidup, pekerjaan, bisnis, karier, perusahaan, maupun organisasi.
Jika kebersamaan kita dengan seseorang ataupun sesuatu tidak membuat bahagia, tidak menumbuhkan, dan tidak menghasilkan sesuatu yang berguna, maka kebersamaan kita sedang mengalami masalah kejodohannya.
Soal mendengar
Saat awal jatuh cinta, mengapa banyak orang tidak mendengar kualitas kekasihnya? — dan baru sadar setelah menikah?
Dalam masa awal mengenal kekasih, ada dinding pemisah bernama “keakuan” yang tidak bisa ditembus. Seorang gadis muda tidak tahu kualitasnya laki-laki yang ia kasihi karena dinding keakuan dalam dirinya begitu kuat, demikian pula halnya yang dialami seorang laki-laki terhadap perempuan yang ia sayangi.
Kenapa orang yang dalam masa pendekatan cinta biasanya banyak bicaranya tentang dirinya sendiri? Karena mereka senang mendengar suaranya sendiri, tentang pendapatnya sendiri, untuk kepentingan dirinya sendiri.
Orang dalam masa jatuh cinta seringkali tidak dengar, tidak tahu, tidak mengenali keburukan di sisi pasangannya. Karenanya, ia kurang memperhatikan apa yang dituntut oleh lingkungannya, dan tidak melihat yang betul-betul apa yang ada di lingkungannya.
Bisikan diri
Nasihat singkat di atas mengingatkan kita tentang makna jodoh yang selama ini (bisa jadi) kita anggap adalah kata benda. Jika tidak cocok, maka bukan jodoh kita. Kita menganggap jodoh adalah barang jadi.
Padahal, sebagaimana pengertian di atas, jodoh adalah proses yang tak kenal akhir. Jika kita memilih sesuatu atau seseorang menjadi jodoh, tanggung jawab kita di dalamnya termasuk menjodohinya. Menjodohi, perlu dimaknai dengan menyesuaikan diri agar kita dapat memperkuat jodoh kita, membantunya tumbuh dan menghasilkan, membuatnya bahagia.
Tentu, bisikan diri yang kadang muncul (mungkin) malah sebaliknya. Kita harus dibuat bahagia, didampingi, dibersamai, ditumbuhkan, dan dibuat berhasil oleh jodoh kita. Ini tidak keliru, namun menjadi salah jika pengertian ini justru yang mendominasi persepsi kita. Hasilnya? Kita sulit bahagia.
Mungkin, itulah mengapa Tuhan mengingatkan kita bahwa lawan terbesar sebenarnya bukan orang lain, tetapi diri sendiri. Di Surat Al-Falaq, Allah hanya menyebut diri-Nya (Rabb) sekali saja. Salah satu makna Surat Al-Falaq adalah perintah kita berlindung dari berbagai bentuk kejahatan dari luar. Sementara, di Surat An-Nas, Allah menyebut diri-Nya sampai tiga kali (Rabb, Maliki, Ilah). Berbeda dengan Al-Falaq, An-Nas mengandung makna bahwa kita wajib berlindung dari godaan setan, termasuk bisikan dari diri sendiri.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang dimampukan untuk melepas ego dan menekan keakuan, sehingga lebih jernih dalam mendengar sekitar. Juga, semoga kita semua menjadi pribadi yang berhasil di manapun kita berada karena kita menjodohi apapun yang kita hadapi.
