Saat Allah Swt. pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah memerintahkan kaum Muslim berpuasa untuk pertama kali, perintah tersebut disampaikan-Nya sambil mengingatkan bahwa puasa telah diwajibkan terhadap umat-umat yang lalu (QS. Al-Baqarah [2]:183).
Informasi dari al-Qur’an ini diakui oleh pakar-pakar dalam bidang studi agama, bahkan dalam sekian banyak kenyataan hingga dewasa ini dikenal sekian banyak orang, baik atas perintah agama maupun bukan, yang melaksanakan puasa dalam arti menahan diri untuk tidak makan/melakukan aktivitas tertentu pada masa tertentu.
Inti berpuasa adalah menahan diri. Sikap menahan diri dibutuhkan oleh seluruh manusia; kaya atau miskin, muda atau tua, lelaki atau perempuan, sehat atau sakit, orang modern yang hidup di masa kini maupun manusia primitif yang hidup di masa lalu, bahkan perorangan atau kelompok.
Dalam berpuasa tercermin hakikat keberagamaan.
Surah Al-Bayyinah [98]:5 menegaskan bahwa: Mereka tidak diperintahkan, kecuali menyembah Allah dalam keadaan mengikhlaskan diri semata dengan penuh kepatuhan kepada-Nya, dan dalam keadaan lurus melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan itulah keberagamaan yang benar.
Nabi Muhammad saw. pun bersabda bahwa agama adalah ketulusan (HR. Muslim), sehingga puasa merupakan puncak cermin ketulusan manusia kepada Tuhan.
Rasulullah Muhammad saw. menyampaikan bahwa Allah berfirman (dalam sebuah Hadits Qudsy): Semua amal putra-putri Adam untuknya, kecuali puasa, ia untuk-Ku dan Aku (secara langsung) memberi ganjarannya (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibadah puasa berbeda dengan ibadah yang lain. Ibadah puasa sedemikian “tersembunyi” sehingga bisa saja seorang berpuasa, tapi diduga tidak berpuasa atau sebaliknya. Ketersembunyian puasa sama dengan ketersembunyian keikhlasan yang tidak seorang pun mengetahui hakikat keikhlasan, kecuali Allah Swt.
Inilah salah satu makna dari kata “untuk-Ku” pada hadits yang dimaksud. Memang, makhluk tidak diperintahkan kecuali menyembah Allah dengan ikhlas (QS. Al-Bayyinah [98]: 5). Atau bahwa penisbahan puasa kepada Allah itu adalah penisbahan kemuliaan (tasyrif) dalam anti puasa sedemikian mulia dari segi keikhlasannya, sehingga Allah yang menentukan kadar ganjarannya. Jadi, “untuk-Ku” bukan dalam arti manfaatnya untuk Allah.
Di samping itu, dalam berpuasa ada upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai kemampuannya sebagai makhluk. Dimulai dengan mengendalikan diri, tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami istri, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Ketiga hal di atas merupakan kebutuhan faali manusia yang terpenting dan bisa ditangguhkan dalam jangka waktu tertentu. Inilah yang pertama yang harus diteladani oleh manusia.
Tetapi, hakikat puasa bukan sekadar itu. Yang berpuasa harus pula meneladani sifat-sifat Allah yang lain, seperti meneladani bagaimana Allah Maha Pemaaf, meneladani bagaimana Allah Maha Mengetahui, meneladani bagaimana Allah Maha Kuat, meneladani bagaimana Allah Maha Dermawan, meneladani bagaimana Allah Maha Kaya, dan lain-lain.
Allah Maha Kaya, dalam asmaul husna, digambarkan dengan Al Ghaniyy. Kayanya Allah itu bukan dalam arti yang dimaksud memiliki materi yang banyak, tetapi kayanya Allah itu dimaknai bahwa Dia tidak membutuhkan segala sesuatu. Dalam bahasa Arab, kata al-ghaniyy terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ghain, nun dan ya’. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu kecukupan, baik menyangkut harta maupun lainnya.
Dari sifat ini, Allah tidak butuh sesuatu untuk wujudnya, tidak butuh juga sesuatu untuk kelanjutan wujud-Nya. Namun demikian, kita manusia membutuhkan Allah untuk mewujudkan kita, setelah Dia wujudkan, kita masih membutuhkan Allah untuk kelanjutan dan pemeliharaan wujud kita.
Jadi, ghaniiy dalam bahasa agama bagi manusia adalah sedikit sekali kebutuhannya. Semakin sedikit kebutuhan kita, semakin tidak butuh kita terhadap segala sesuatu, sesungguhnya kita semakin kaya. Sebaliknya, semakin kita kaya dalam arti memiliki banyak hal, namun besar rasa kebutuhan kita, sesungguhnya kita sangat miskin.
Imam Ghazaly dalam bukunya al-Asma al-Husna menjelaskan makna sifat-sifat Allah dan bagaimana diusahakan untuk meneladani sifat-sifat tersebut. Jika puasa adalah upaya meneladani sifat-sifat Allah, maka kita bertemu lagi dengan hakikat keagamaan melalui puasa. Karena salah satu definisi agama yang tertua sekaligus dapat diterima oleh banyak agamawan dan ilmuwan ialah: Agama/beragama adalah upaya meneladani sifat sifat Tuhan sesuai kemampuannya.
Sekian banyak riwayat-walau oleh sebagian ulama tidak dinilai sebagai hadits shahih-menganjurkan umat Islam agar bertakhalluq dengan akhlaq Allah, yakni berusaha meneladani sifat-sifat Allah sesuai kemampuan sebagai makhluk. Berpuasa adalah salah satu caranya.
Yang berpuasa dituntut untuk mengenal Allah sesuai kemampuan, mengenal betapa indah sifat-sifat-Nya, lalu meneladaninya. Jika demikian, puasa bukan sekadar menahan ketiga kebutuhan faali semata, tapi mengendalikan nafsu dan lebih utama lagi meneladani sifat-sifat Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan sebagainya.
Sekali lagi, jika demikian, puasa adalah inti keberagamaan karena keberagamaan, adalah upaya meneladani sifat- sifat Tuhan.
Mudah-mudahan ada manfaatnya.
—
Referensi:
Shihab, M. Quraish. Mutiara Hati: Mengenal Hakikat Iman, Islam dan Ihsan. (2017): Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. Lentera Hati: Pijar Hikmah dan Teladan Kehidupan. (2021): Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. Kumpulan 101 Kultum tentang Islam. (2022): Lentera Hati.
—
Artikel ini dirujuk dari sejumlah karya M. Quraish Shihab, dan disampaikan dalam khotbah Jumat Masjid Al-Muqtashidin, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia, pada Jumat, 24 Maret 2023.
