Cahaya di atas cahaya

Era globalisasi yang memudarkan batas negara dan batas nilai telah semakin banyak mengubah cara manusia dalam memandang dan menilai sesuatu. Manusia semakin hanya mengandalkan kemampuan panca indra. Kita menjadi begitu mudah mempercayai apa yang dilihat, langsung meyakini apa yang didengar, cepat melegitimasi apa yang dirasa.

Agaknya, fenomena ini sejalan dengan adagium yang dipopulerkan sejarawan dari Barat pada abad ke-17: seeing is believing. Namun, jika kita teliti, sebenarnya panca indra memiliki banyak keterbatasan. Jika hanya berdasar pada panca indra, bintang di langit nampak sangat kecil, tongkat yang tercelup di dalam kolam pun tampak bengkok.

Oleh karenanya kita memerlukan akal. Dengan akal, kita bisa mengetahui bahwa bintang boleh jadi lebih besar dibanding galaksi kita. Tongkat yang tampak bengkok sejatinya berbentuk lurus.

Namun, apakah akal sendiri cukup?

Akal sebagai pelita

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat ke-35, dengan terjemah makna sebagai berikut:

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Melalui ayat di atas, agama kita telah mensiratkan, untuk selamat dalam menjalani kehidupan, kita memerlukan keterampilan akal dan kemampuan spiritual yang matang. Wahyu yang merupakan ayat amsal tersebut sejatinya telah ditafsirkan secara beragam oleh para ulama. Sebagian bahkan berpendapat, ayat tersebut bisa dipahami hanya dengan berpikir jernih.

Salah satu tafsir indah yang dapat dijadikan rujukan dalam memahami ayat tersebut di atas adalah oleh Imam Ghazali. Dikatakan, ungkapan tembok yang tidak tembus dalam ayat dapat dimaknai sebagai panca indera. Panca indra yang bisa menipu manusia dalam membuat kesimpulan. Lalu, apa yang meluruskan panca indera? Tentunya, akal. Akal sendiri disimbolkan sebagai adalah al-mishbah atau pelita besar.

Akal bisa mengembara, berkelana tanpa tujuan. Oleh karenanya, akal pun perlu berkonsentrasi sehingga dapat berjalan dengan benar. Agar akal dapat berkonsentrasi, maka diperlukan tabung kaca yang dipersamakan dengan daya fokus manusia.

Namun, apakah akal bisa berdiri sendiri? Apakah akal dapat keliru dalam membuat kesimpulan? Apakah akal dapat merasakan letih? Agar akal terus terjaga seperti pelita yang terus menerus bersinar, maka diperlukan minyak. Dalam konteks ini, minyak adalah wahyu, intuisi, atau pun ilham. Wahyu adalah Al-Qur’an. Wahyulah yang membimbing akal agar terus terjaga dan tidak cepat letih.

Mengharap cahaya

Di sisi lain, sementara ulama lain mengajak kita merenungkan ayat amsal tersebut dengan perspektif cahaya sebagai petunjuk Tuhan. Jika secara materi cahaya dan yang paling dikenal dan yang paling terang bagi kita adalah cahaya matahari, maka sejatinya cahaya matahari meliputi segala sesuatu yang ada di bumi.

Coba perhatikan, kalau manusia tidak mendapatkan cahaya matahari, apakah salah kita sebagai manusia atau salah matahari yang tidak menyinari kita? Kalau kita menutup diri dalam ruangan tertutup, maka sinar matahari tidak akan sampai menjangkau kita. Kalau ingin mendapat cahaya Ilahi, maka bukalah hati kita.

Hal ini serupa dengan potongan ayat tersebut: Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya, bagi siapa yang Dia kehendaki, atau bagi siapa yang menghendaki. Siapa yang menghendaki petunjuk Allah Swt., maka kita harus memiliki niat yang kuat. Allah akan menghendaki kalau kita memiliki niat. Hal ini sejalan dengan ajaran agama kita, bahwa niat/kehendak seorang mukmin lebih baik bagi amalnya.

Jika petunjuk itu dianugerahkan kepada kita, maka ayat tersebut lebih lanjut mensiratkan cahaya di atas cahaya. Cahaya yang terus terjaga, menyala, dan terpelihara oleh minyak. Hal ini menggambarkan bahwa petunjuk Allah Swt. akan terus menerus bersama hamba-Nya yang lurus. Jika kita mendapat petunjuk, maka petunjuk itu akan terus bertambah, berkesinambungan, tanpa akhir.

Itulah sebabnya dalam Al-Fatihah kita berdoa tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Perjalanan kita di dunia dan di akhirat akan tersesat tanpa arah jika petunjuk Allah Swt. tidak hadir terus-menerus, senantiasa bersama kita.

Ayat tersebut di atas juga mensiratkan perlunya manusia tidak terjebak dalam ekstrimisme. Dari terjemahan pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, ayat tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita tentang pentingnya moderasi ajaran Islam yang tidak ekstrim di kiri dan maupun di sisi kanan.

Wallahu a’lam bishawab

Khotbah Jumat 28 Januari 2022 yang disampaikan kepada jemaah
Masjid Al Muqtashidin, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.