Membaca merger perguruan tinggi

Hari ini, Adelaide University resmi beroperasi secara penuh. Universitas ini lahir dari penggabungan dua institusi yang sama-sama mapan: University of Adelaide, sebuah sandstone university dengan sejarah kolonial panjang, dan University of South Australia, universitas hasil transformasi besar dalam lanskap pendidikan tinggi modern Australia. Secara formal, hari ini menandai dimulainya operasional penuh Adelaide University, meskipun proses transisi kelembagaan telah berlangsung sejak beberapa waktu sebelumnya. Pada Desember 2025 s.d. Januari 2026, University of Adelaide dan University of South Australia secara bertahap menutup operasionalnya sebagai institusi terpisah. Sejak itu, hanya satu nama yang tersisa: Adelaide University.

Sekilas, peristiwa ini tampak sebagai konsolidasi administratif. Namun jika dibaca lebih dalam, peresmian ini menandai sesuatu yang lebih substantif—sebuah bab baru dalam kisah pendidikan tinggi Australia.

Jika merujuk sejumlah literatur, sejarah pendidikan tinggi Australia kerap disajikan secara kronologis, seolah bergerak linier dari masa ke masa. Padahal, kisah ini lebih menarik jika dibaca sebagai rangkaian langgam—pola besar yang mencerminkan bagaimana universitas dibayangkan, dijalankan, dan diberi makna dalam konteks sosial-politik tertentu. Setiap langgam bukan sekadar periode waktu, melainkan cara berpikir tentang apa itu universitas dan untuk siapa universitas hadir.

Langgam pertama adalah era universitas kolonial dan pascakolonial awal. Universitas-universitas yang lahir sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20—umumnya didirikan oleh pemerintah negara bagian—dibayangkan sebagai institusi pembentuk elite profesional, birokrat, dan penjaga nalar publik. Universitas pada fase ini berfungsi sebagai instrumen state-building: menopang administrasi pemerintahan, produksi pengetahuan klasik, dan pembentukan tatanan sosial baru di masyarakat kolonial yang bertransformasi menjadi negara bagian modern.

Langgam kedua muncul pasca-Perang Dunia II, ketika universitas mulai diposisikan sebagai bagian dari proyek pembangunan nasional. Kelahiran Australian National University pada 1946 menjadi simbol paling jelas dari fase ini: universitas dirancang sebagai mesin pengetahuan strategis negara, dengan riset dan sains sebagai inti. Namun penting dicatat, fase ini tidak identik dengan federalisasi penuh. Banyak universitas yang lahir setelah ANU tetap didirikan oleh pemerintah negara bagian, tetapi beroperasi dalam kerangka kebijakan nasional yang semakin terkoordinasi. Flinders University, Griffith University, dan La Trobe University adalah bagian dari contohnya. Dengan kata lain, yang berubah bukan semata siapa pendirinya, melainkan cara universitas dibayangkan—dari institusi negara bagian menjadi bagian dari agenda nasional.

Langgam ketiga hadir melalui reformasi besar akhir 1980-an, ketika pemerintah Australia melakukan penataan ulang pendidikan tinggi secara menyeluruh. Reformasi ini dipimpin oleh John Dawkins, Menteri Pendidikan Australia saat itu, yang menghapus batas antara universitas dan colleges of advanced education. Universitas diperluas, di-demokratisasi, dan disatukan dalam satu sistem nasional. Pada saat yang sama, pendidikan tinggi mulai dikelola dengan logika efisiensi, kinerja, dan kompetisi. Banyak universitas Australia hari ini—termasuk University of South Australia—merupakan produk langsung dari fase ini. Universitas tidak lagi menjadi ruang yang relatif eksklusif, tetapi juga mulai beroperasi sebagai organisasi besar dalam kerangka pasar.

Merger antara University of Adelaide dan University of South Australia tidak sepenuhnya dapat dibaca sebagai kelanjutan dari langgam ketiga. Ini bukan kisah perguruan tinggi kecil yang “naik kelas” menjadi universitas. Yang terjadi adalah penggabungan dua universitas mapan, masing-masing dengan sejarah, identitas, dan modal simbolik yang kuat. Dalam konteks sejarah pendidikan tinggi Australia, langkah ini relatif jarang. Di titik inilah peristiwa ini layak dibaca sebagai langgam keempat.

Langgam keempat digerakkan bukan oleh ekspansi akses, melainkan oleh strategi bertahan dan bersaing dalam lanskap global. Pendidikan tinggi dunia semakin terkonsentrasi: dana riset, reputasi akademik, dan talenta bergerak menuju institusi yang besar, kuat, dan terhubung secara internasional. Dalam situasi seperti ini, universitas tidak lagi cukup berdiri sendiri. Skala menjadi prasyarat relevansi, dan konsolidasi menjadi salah satu respons kebijakan. Adelaide University lahir dari kesadaran tersebut.

Langgam ini menandai pergeseran penting dalam cara universitas dipahami. Universitas tidak lagi hanya dilihat sebagai institusi publik dengan mandat sosial, tetapi juga sebagai aktor strategis dalam ekonomi pengetahuan global. Peringkat internasional, visibilitas global, dan daya saing riset menjadi bahasa sehari-hari dalam pengambilan keputusan kampus. Rasionalitas di balik pergeseran ini dapat dipahami. Pendidikan tinggi Australia memang berkualitas tinggi, tetapi kualitas semata tidak lagi cukup di tengah kompetisi global yang semakin padat.

Namun, setiap langgam selalu membawa keuntungan sekaligus kehilangan. Langgam keempat berisiko mengikis pluralisme institusional—keunikan misi, kedekatan dengan komunitas lokal, serta tradisi akademik yang tumbuh secara organik. Ketika universitas semakin menyerupai platform besar, fungsi publik berpotensi tersubordinasi oleh logika kompetisi global. Pertanyaannya bukan semata apakah merger ini baik atau buruk, melainkan ke arah mana universitas Australia sedang bergerak, dan untuk siapa universitas tersebut dibentuk.

Adelaide University mungkin akan berhasil secara strategis. Peringkat bisa naik, kapasitas riset dapat menguat, dan jejaring global semakin luas. Namun yang lebih penting, peristiwa ini menjadi penanda zaman. Pendidikan tinggi Australia sedang memasuki fase baru—bukan hanya secara institusional, tetapi juga secara paradigmatik.

Perubahan lanskap perguruan tinggi semacam ini ini patut mendapatkan observasi yang lebih serius—bukan hanya bagi Australia, tetapi juga bagi cara dunia memaknai universitas di abad ke-21. Pada akhirnya, sejarah pendidikan tinggi tidak pernah netral. Dinamikanya selalu mencerminkan pilihan-pilihan sebuah masyarakat—tentang pengetahuan apa yang ingin dirawat, kekuasaan mana yang ingin didekatkan, dan masa depan siapa yang dianggap layak diperjuangkan.

Referensi:
Wesley, M. (2023). Mind of the nation: Universities in Australian life. La Trobe University Press. https://www.blackincbooks.com.au/books/mind-nation

The Australia Institute. (2025, November 21). Aiming higher with George Williams [Webinar]. https://australiainstitute.org.au/event/aiming-higher-with-george-williams/

Sumber gambar:
https://www.lippincott.com/work/adelaide-university/

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.