Dua pagi di kampus terpadu

Di Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII), selalu ada dua pagi yang paling menggetarkan: satu pagi yang berdenyut dengan lautan jas almamater, dan satu pagi lagi yang berkilau oleh toga biru. Dua pagi itu menjadi cermin bagaimana ilmu, harapan, dan cinta bertemu di ruang yang sama. Yang pertama datang setahun sekali, bernama kuliah perdana. Yang kedua, wisuda, hadir enam kali dalam setahun, pagi-pagi penuh toga biru kebanggaan, di mana kebahagiaan dan keharuan berpadu dalam satu upacara.

Kuliah perdana di Kampus Terpadu selalu membawa udara yang berbeda. Kabut tipis menggantung di lereng Kaliurang, udara sejuk menyapa pepohonan yang menaungi jalanan kampus yang luas dan teduh. Dari kejauhan, tampak para mahasiswa baru melangkah dengan gugup sekaligus bersemangat. Mereka mengenakan jas almamater biru tua, kemeja putih bersih, dan bawahan hitam rapi, pakaian yang bukan sekadar seragam, melainkan simbol janji kepada diri sendiri untuk menapaki jalan baru.

Di gerbang utama, para orang tua berdiri dengan mata yang sulit menyembunyikan haru. Ada yang mengantar dengan mobil sederhana, ada yang berboncengan di atas sepeda motor, dan tak sedikit yang hanya mampu melambaikan tangan dari kejauhan karena anaknya datang sendiri, merantau dari kota lain. Di mata mereka terpancar doa yang tak diucap: semoga anak ini kelak menjadi manusia yang berilmu, beriman, dan membawa manfaat bagi sesama. Sebagian tersenyum menahan tangis, sebagian menunduk diam, sebagian lainnya menatap langit, seolah menitipkan nasib anaknya kepada Tuhan.

Pagi itu, halaman dan auditorium kampus berubah menjadi samudra biru almamater. Di antara gemuruh sambutan dan doa pembuka, suasana terasa khidmat. Kuliah perdana di Kampus Terpadu bukan sekadar acara pengenalan, tetapi pertemuan antara ilmu dan harapan, antara pengetahuan dan doa yang baik dari banyak hati. Setiap langkah mahasiswa baru di jalanan kampus yang berliku adalah langkah pertama menuju kedewasaan, menuju cahaya yang akan mereka temukan sendiri suatu hari nanti.

Bertahun-tahun kemudian, para mahasiswa baru itu akan menemui pagi yang kedua. Datanglah pagi yang lain, pagi yang sejuknya sama, tetapi meresap makna yang berbeda. Pagi wisuda. Di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, toga biru UII yang bercorak khas membalut para sarjana baru. Toga itu bukan sembarang biru: coraknya memadukan keanggunan akademik dan keislaman, dihiasi pola batik hasil rancangan pelukis besar Amri Yahya, telah menjadi kebanggaan universitas sejak 1976. Di bawah cahaya lampu, biru itu tampak seperti langit yang menunduk memberi restu kepada ilmu.

Nama-nama dipanggil satu per satu, dan setiap langkah menuju panggung terasa seperti langkah kecil menembus sejarah keluarga. Di antara tepuk tangan dan kilatan kamera, para orang tua menatap dengan mata yang kembali basah. Ada yang menepuk tangan sambil menahan napas, ada yang tersenyum lebar sambil berpelukan, ada pula yang hanya diam, matanya berkaca-kaca, menatap masa depan yang kini tiba lebih cepat dari yang mereka bayangkan.

Namun di tengah keriuhan itu, ada pula yang menunduk pelan, menyimpan haru dalam sunyi. Tidak semua kebahagiaan pagi itu bisa dibagikan secara langsung. Sebagian mahasiswa berdiri di panggung dengan hati yang separuh tertinggal, untuk ayah atau ibu yang tak lagi hadir, yang mungkin dulu mengantar di pagi kuliah perdana, namun kini hanya bisa menyaksikan dari alam yang berbeda. Dalam setiap langkah mereka, seakan ada doa yang melayang pelan ke langit, menembus waktu dan jarak, membawa pesan sederhana: “Anakmu telah sampai.”

Bagi sebagian keluarga, wisuda bukan hanya perayaan akademik, melainkan akhir dari perjalanan panjang yang diisi dengan kerja keras, doa, dan pengorbanan. Setelah hari itu, banyak yang akan kembali merantau, bukan lagi untuk belajar, melainkan untuk bekerja, berkarya, dan perlahan membangun rumah tangganya sendiri. Dan di sanalah, cinta orang tua menemukan bentuk paling sunyi: kemampuan untuk melepaskan.

Bagi para pendidik, mewisuda mereka adalah kehormatan yang tak ternilai. Tidak pernah sekalipun upacara dilewati, karena di setiap toga biru itu tersimpan kenangan tentang hari pertama dulu—tentang wajah-wajah muda berjas almamater yang datang dengan harapan besar. Waktu telah berjalan, ilmu telah bertumbuh, dan harapan yang dulu dititipkan kini menjelma nyata.

Kampus Terpadu, dengan jalan menanjak dan pepohonan yang rimbun, menjadi saksi perjalanan itu. Dari hari pertama mengenakan jas almamater hingga pagi terakhir memakai toga biru, setiap mahasiswa menuliskan kisahnya sendiri tentang perjuangan, cinta, dan ketulusan. Kampus ini bukan sekadar ruang belajar, melainkan rumah bagi segala rasa, tempat ilmu bertemu iman, tempat cita-cita bertemu doa, tempat pertemuan dan perpisahan saling berganti seperti musim.

Pendidikan di UII tak berhenti pada nilai dan gelar. Ia adalah perjalanan menyalakan cahaya di dalam sanubari manusia agar tetap berpijar, bahkan setelah meninggalkan ruang kuliah dan melangkah ke dunia yang lebih luas. Di sanalah terletak kemuliaan profesi seorang pendidik: menjadi saksi dari perjalanan orang lain menuju cahayanya sendiri, sembari memastikan bahwa setiap langkahnya tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Dan, ketika prosesi wisuda usai, auditorium perlahan sepi, bunga di tangan mulai layu, dan toga biru itu dilipat dengan penuh hati-hati, pagi pun kembali tenang. Jalanan Kampus Terpadu berangsur sunyi, menyisakan bayangan langkah-langkah yang menjauh dari gerbang. Di hati yang menyaksikan semua itu, selalu tumbuh keyakinan yang sama: semoga cahaya yang dulu mereka bawa di pagi pertama kini berpijar lebih terang, menyinari banyak jalan, banyak kehidupan, dan suatu hari kembali ke kampus ini, bukan lagi sebagai mahasiswa, melainkan sebagai pembawa cahaya bagi generasi yang datang kemudian.

Amin.

Sumber foto: DPSD UII

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.