Benarkah kita sedang menyelenggarakan pendidikan?

Gelembung skeptisisme terhadap pendidikan tinggi kian mengkhawatirkan. Sebuah survei Gallup terbaru menunjukkan hanya 36% orang dewasa di Amerika Serikat yang masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap perguruan tinggi, turun drastis dari 57% pada 2015. Para pelajar SMA cenderung memilih jalur vokasi atau langsung bekerja. Keterampilan diyakini dapat dipelajari tanpa jalur pendidikan formal.

Fenomena ini bukan hanya soal biaya, tapi juga soal makna pendidikan. Di era Akal Imitasi (AI) dan pasar tenaga kerja yang berubah cepat, semakin banyak yang menanyakan: “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau keterampilan bisa diperoleh mandiri dan instan?”

FUNGSI PENDIDIKAN

Skeptisisme di atas mendorong kita untuk menanyakan kembali, benarkan pendidikan sekadar soal menguasai keterampilan? Sejatinya, pendidikan bukan sekadar bangku dan papan tulis, bukan pula hanya tentang nilai angka yang ditorehkan di lembar ijazah. Ia adalah jalan panjang, jalan sunyi yang mengantar manusia menjelma: dari sekadar makhluk yang dilahirkan, menjadi makhluk yang dimanusiakan.

Gert Biesta (2009) mengingatkan kita akan tiga tapak jejak pendidikan yang saling berkelindan, bagaikan akar pohon yang menembus tanah: menghidupi, menahan, dan menumbuhkan.

Pertama, Kualifikasi. Inilah fondasi awal: kemampuan untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya pengetahuan dan keterampilan yang dijajakan dalam kurikulum, tapi juga pembiasaan berpikir, memahami, dan menilai. Di sini, pendidikan memberi bekal agar manusia tak hanya berdiri sebagai angka statistik pengangguran, melainkan sebagai sosok yang siap menunaikan perannya di dunia yang penuh gelombang. Pendidikan, dalam fungsi ini, adalah tangga bagi kerja dan penghidupan.

Kedua, Sosialisasi. Melalui pendidikan, manusia diperkenalkan kepada tatanan. Ia diajak masuk ke dalam dunia yang sudah lebih dahulu berdetak: dunia sosial, budaya, dan politik. Ia belajar menjadi bagian, menjadi warga. Dalam ruang-ruang kelas yang hening maupun gaduh, anak manusia disusupi nilai, norma, dan arah. Bahwa kita hidup tak sendirian. Bahwa ada “kita” yang harus dipelajari sebelum terlalu jauh menegakkan “aku”.

Ketiga, Subjektivikasi. Inilah ranah yang paling sunyi sekaligus paling revolusioner. Pendidikan tak hanya menjadikan manusia mahir dan patuh, tapi juga utuh. Di sinilah individu mulai menyuarakan dirinya, tak lagi sekadar gema dari masyarakat, tapi menjadi suara yang berdiri sendiri. Ia diajak mengenali dirinya, memaknai keberadaannya, dan membebaskan pikirannya. Pendidikan, pada titik ini, adalah upaya membentuk manusia yang merdeka—yang tahu siapa dirinya, dan berani menanggung arti hidupnya.

Dibelenggu angka

Sayangnya, pendidikan hari ini terlalu larut dalam satu fungsi: kualifikasi. Dua lainnya, sosialisasi dan subjektifikasi, justru memudar—jika kita enggan menyebutnya ditinggalkan. Sekolah tidak lagi dianggap sebagai ruang membentuk manusia, melainkan tempat mencetak tenaga kerja.

Pendidikan tanpa sosialisasi akan melahirkan individu yang cerdas tapi asing dengan lingkungannya. Pendidikan tanpa subjektifikasi akan mencetak lulusan yang patuh tapi tak mengerti untuk apa mereka hidup. Mereka bisa menjawab soal, tapi tak pernah tahu mengapa mereka perlu bertanya.

Salah satu gejala paling nyata dari luruhnya fungsi pendidikan ini adalah pendidikan yang hanya diukur lewat angka. Anggaran pendidikan 20% dari APBN terdengar menjanjikan, meski rupanya sebagian besar justru tidak dikelola oleh kementerian atau lembaga yang mengurus pendidikan, sehingga tidak menyentuh ruang kelas dan pembelajaran yang sesungguhnya.

Di sekolah dan kampus, logika angka mendominasi. SD/SMP/SMA berlomba dianggap “unggulan” berdasarkan berapa banyak siswanya masuk jenjang berikutnya. Perguruan tinggi tajam dalam mengejar akreditasi, indeks kinerja, dan peringkat dunia.

Pendidikan telah menjelma menjadi perlombaan angka: kelulusan cepat, serapan kerja tinggi, publikasi terindeks, jumlah mahasiswa, pertumbuhan institusi. Begitu mendalamnya logika ini, hingga pendidikan tidak lagi menjadi ruang tumbuh, melainkan ruang hitung dan pencapaian.

pendidikan atau Industri jasa?

Di tengah belenggu angka-angka tersebut, pertanyaan mendasarnya: benarkah kita sedang menyelenggarakan pendidikan? Atau, jangan-jangan yang kita jalankan adalah industri jasa yang hanya memproses penyesuaian diri manusia terhadap pasar kerja?

Jika satu-satunya fungsi adalah kualifikasi, maka wajar jika masyarakat mulai mempertanyakan: untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Bukankah keterampilan bisa dipelajari secara mandiri? Bukankah jika sudah memiliki sertifikat kita bisa menghidupi diri sendiri?

Ini adalah bom waktu. Masyarakat yang kehilangan makna dalam memahami fungsi pendidikannya akan berbalik menyangsikan nilai pendidikan itu sendiri. Penyangsian oleh masyarakat ini bukanlah penyebab, melainkan akibat dari sistem pendidikan kita sendiri.

Kita harus mengembalikan pendidikan pada fungsinya, bukan hanya untuk “menghasilkan”, tapi juga untuk “menghidupkan”. Pendidikan tidak hanya diselenggarakan untuk sekadar mencetak kompetensi, namun juga untuk membentuk kesadaran.

Lebih jauh lagi, ketika kita hanya memusatkan diri pada kualifikasi, dosen dan guru juga berisiko kehilangan kesadaran sebagai pendidik. Kita tidak lagi memandang anak didik sebagai masa depan bangsa yang harus dibentuk utuh, baik kemampuan akal maupun kecerdasan spiritualnya.

Kita justru melihat mereka sebagai “output”, sebagai “produk akhir” dari sistem produksi. Dengan demikian, pendidikan berubah menjadi industri jasa. Sekolah menjadi unit usaha. Kampus menjadi korporasi. Para guru atau dosen? Mereka tak ubahnya operator sistem yang mengawal angka-angka capaian.

Tanpa kesadaran akan ruh pendidikan, sistem ini berubah jadi komodifikasi pendidikan. Sekali itu terjadi, hilanglah nilai wadah peradaban. Pendidikan sekadar menjadi alat mobilitas vertikal individual, bukan berfungsi sebagai tangga kolektif menuju masyarakat yang beradab dan berpijak pada nilai.

Menyalakan cahaya

Masih ada waktu untuk mengembalikan kesadaran kolektif. Sepekat apa pun langit, selalu ada fajar yang menanti disambut. Meski, ia tak akan datang dengan sendirinya. Kita lah yang harus menyalakannya, dalam ruang-ruang kelas, dalam cara kita mengajar, dalam cara kita percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal hasil, tapi tentang bagaimana kita hadir dan memberi manfaat bagi sesama.

Stay in touch

Stay informed with fresh insights on politics, higher education, and life.