Sudut pandang orang lain memandang siapa kita tentu tidak selalu sama dengan cara kita menilai diri sendiri. Cara pandang orang lain menilai kita kemudian lebih sering dikenal sebagai citra yang kita miliki. Serupa dengan manusia, negara juga memiliki citra. Ia merupakan reaksi aktor internasional (negara dan non-negara) setelah menilai sejumlah matra (dimensi) yang dimiliki oleh negara tersebut.
Menilik Alexander Buhhman, citra negara dapat dibangun dari empat dimensi: matra fungsional (functional dimension), matra normatif (normative dimension), matra estetis (aesthetic dimension), dan matra emosional (emotional dimension). Tiga matra pertama merupakan pilar matra yang bersifat kognitif, sementara matra emosi sendiri bersifat afektif.
Matra fungsional
Matra fungsional merupakan citra negara yang dibentuk atas pilar-pilar material pembentuk daya saing suatu negara. Dengannya, ia akan dilihat adikuasa, kekuatan menengah, atau justru lemah. Demikian juga dari perspektif ekonomi, di mana matra ini akan memberi warna citra negara apakah ia negara yang berkekuatan ekonomi maju, berkembang, atau tertinggal. Contoh dari matra ini adalah sistem politik, ekonomi, perdagangan, kekuatan militer, hingga pendidikan.
Strategi diplomasi Indonesia telah terlihat menunjukkan pendekatan matra fungsional dengan terstruktur, sebagaimana tercermin dari peningkatan intensitas perdagangan, ekonomi, dan kerja sama pendidikan Indonesia dengan di Norwegia, Islandia, Swiss, dan Liechtenstein (2018-2023). Sementara itu, upaya diplomasi Indonesia menjaga kekuatan dan stabilitas hubungan politik dengan Takhta Suci Vatikan (2020-2022) juga merupakan indikator matra fungsional yang dijalankan.
Matra normatif
Pada matra ini, aspek yang diukur adalah dimensi integritas, norma, dan nilai yang melakat pada suatu negara. Sebagai matra yang bersifat non-material ini, Indonesia terlihat telah menunjukkan matra normatif dengan posisi yang jelas, konsisten, dan lugas. Dalam konteks narasi pembangunan berkelanjutan, misalnya, Indonesia menunjukkan prioritas kebijakan yang serius untuk meningkatkan daya saing perdagangan melalui nilai tambah yang ramah lingkungan. Pendekatan ini dilakukan Indonesia dalam menjalin hubungan ekonomi dengan Norwegia, Islandia, Swiss, dan Liechtenstein (2018-2023).
Di sisi lain, dalam penguatan hubungan dengan Takhta Suci Vatikan (2020-2022), Indonesia telah membangun matra normatif yang kokoh melalui afirmasi nilai-nilai perdamaian, kebersamaan, kemanusiaan, pembangunan, dan pelestarian lingkungan hidup.
Matra estetik
Dimensi suatu negara yang menebalkan aspek pariwisata, budaya, baik benda maupun takbenda merupakan aspek yang disebut oleh Buhhman sebagai matra estetik.
Dalam konteks ini, penyelenggaraan festival film dan promosi kuliner Indonesia di Norwegia (2018-2023) merupakan bagian dari bentuk upaya diplomasi matra estetik yang dimaksud. Hal serupa dapat kita lihat di Museum Vatikan (2020-2022), di mana terdapat Borobudur Garden yang merupakan upaya pengenalan pariwisata Indonesia di wilayah tersebut.
Matra emosional
Setelah ketiga matra tersebut terfokus pada upaya terstruktur suatu negara dalam membentuk citranya di mata dunia, matra keempat ini merupakan dimensi citra yang menggambarkan reaksi dunia internasional, baik negara maupun non-negara, dalam memandang negara lain.
Salah satu contoh nyata matra emosional ini dapat terlihat dari keberhasilan Indonesia mempengaruhi warga Swiss dalam melakukan referendum untuk mendukung Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Hasil referendum menunjukkan bahwa 52% penduduk Swiss mendukung negara tersebut berpartisipasi dalam IE-CEPA. Maknanya, mayoritas (52%) penduduk negara yang terkenal dengan mesin jam tangan dan produk teknologi tinggi tersebut memiliki simpati dan percaya dengan Indonesia.
Epilog
Melalui perspektif yang ditawarkan Buhhman, citra negara sekaligus dapat menunjukkan bahwa dunia diplomasi tengah mengalami evolusi. Ia tidak lagi sama seperti diplomasi di masa lalu, di mana negara menjadi aktor tunggal dalam pelaku diplomasi. Dalam cara pandang yang ditawarkan oleh Murray, kategori negara sebagai aktor tunggal dalam diplomasi ini disebut dengan pendekatan diplomasi tradisionalis.
Meski demikian, diplomasi kini juga bukan merupakan panggung yang hanya disediakan untuk aktor non-negara seperti organisasi masyarakat sipil, perusahaan multinasional, dan organisasi internasional. Faktanya, negara tetap menjadi entitas tertinggi dan cenderung masih memiliki daya paksa dalam mengupayakan redistribusi kesejahteraan.
Di mana tahapan evolusi diplomasi dunia saat ini? Murray menyebutnya dengan istilah model diplomasi inovatif yang merupakan arena relasi antara aktor negara dan non-negara. Diplomasi inovatif melihat dunia internasional dengan cara pandang yang beragam, baik konstruktivisme, interdependensi kompleks yang tidak juga optimis maupun pesimistis dalam melihat relasi antaraktor.
Betapapun, yang terpenting adalah bagaimana pola evolusi ini dapat kita cermati. Setelah mencapai titik ini, ke manakah arah dan bentuk masa depan dunia diplomasi?
—
Sebagian besar dari artikel ini disampaikan dalam Forum Debriefing Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bertema Diplomasi Ekonomi Indonesia dalam Kerangka AFTA, Rabu, 14 Juni 2023 yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia.
